Kamis, 18 Juni 2015

Lebih baik Tenis Indonesia kehilangan

JAKARTA, 18 Juni 2015. - Entah karena sudah alami beberapa Ketua Umum PP Pelti, sejak dari istilah Pengurus Besar (PB) kemudian berubah menjadi Pengurus Pusat(PP) melalui Musyawarah Nasional (MUNAS) Pelti, saya sedikit terenyeh jika  Pelti periode 2012-2017 akan melemahkan pertenisan nasional. Jikalau sering bertemu dengan masyarakat tenis maupun pelaku pelaku tenis dilapangan maka saya paling sering diberi pertanyaan yang sangat menyedihkan tidak seperti terjadi dikepengurusan Pelti yang lalu lalu.


Saya selalu menghindar berikan jawaban yang menyudutkan, bahkan jika terjadi keinginan dari rekan rekan didaerah untuk menyikapinya, saya hanya bisa katakan berikan mereka waktu untuk menunjukkan prestasinya. Karena sejak pertengahan tahun pertama berjalan, sudah muncul pertanyaan pertanyaan datang dari rekan rekan yang dulu ikut memilih ketua umum yang baru. Dan sayapun orang pertama yang dihubungi oleh rekan2 calon ketua umum saat itu dan ikut memuluskannya.

Kemudian saya berada diluar untuk ikut membantu mengawasi jalannya kabinet yang dibentuk oleh Ketua Umum PP Pelti yang baru, bahkan pernah ditawari oleh salah satu petinggi yang sebagai sponsor  dalam pemilihan di Munas , untuk menjadi staf ahli, tetapi saya tidak tanggapi.

Penilaian tentang kepengurusan Pelti  tentu ada. Hanya saja saya beranggapan, terlalu naif kalau dalam beberapa bulan awal tahun kepengurusan , sudah harus berharap banyak. Justru yang terjadi hasil kerjanya belum ada dan untuk bisa diberikan jempol.

Semua ini ada sebab musababnya. Penyebabnya tak lain karena anggota kepengurusan ini belum mempunyai visi dan misi yang sejalan dengan Ketua Umum PP Pelti sendiri.
Dalam pengurus harian sendiri terjadi beberapa blok atau keberpihakan sendiri sendiri, sehingga justru menimbulkan konflik kepentingan. Karena hanya mampu berpikir beberapa meter ke depan. Tidak ada yang bersifat visioner.

Lihat saja Bidang Pembinaan Prestasi, sebagai salah satu barometer.
Bidang yang dipimpin oleh mantan atlet nasional, sejak awal sudah saya ragukan pola berpikrannya, karena sepengetahuan saya, dia itu bukan seorang konseptor sehingga kesan saya tidak memiliki konsep pembinaan kedepan. Hanya dalam pikirannya adalah buat sebanyak mungkin pertandingan. Sehingga tanpa memikirkan kemampuan khususnya kemampuan finansial maka didaftarkannya sekitar 20 turnamen internasional ke ITF begitu susunan kabinet dilantik KONI Pusat sebagai bentuk gebrakan tanpa pola.

Akibatnya , ternyata sebulan sebelum turnamen internasional tersebut dimulai tiba tiba baru sadar jika belum ada dana untuk menjalankan event tersebut. Padahal sebelum berkoar koar kalau pimpinan yang baru soal dana bukan masalah. Dan hasilnya Pelti harus membatalkan dan terima penalti dari ITF.

Saya berani mengatakan begini, karena saya mengerti masalah besarnya dana turnamen yang dibutuhkan dan biasanya keputusan itu datang dalam Rapat Pengurus Harian baru didaftarkan ke ITF. Ketika saya duduk dalam kepengurusan PP Pelti sebagai wakil sekjen selama 10 tahun, semua keputusan dilakukan dalam rapat dan disetujui oleh Ketua Umum baru didaftarkan ke ITF.
 
Akibatnya diawal tahun kedua  terjadi mundurnya Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti dan sebelumnya pula ada anggota kepengurusan ikut mundur dalam kepengurusan karena merasa ada ketidak cocokan didalamnya. Benih benih perpecahan mulai muncul.

Saya berani mengatakan terjadilah perpecahan didalam kepengurusan karena saya mengenal mereka satu persatu  Saya menganggap mereka sebagai kawan. Dan kawan yang sejati, harus berkata apa adanya, tanpa dilihat apa ada agenda negatif.

Hari ini rasa miris itu semakin bertambah. Sebab berita kegagalan tim tenis diajang SEA Games ke 28 tahun 2015 di Singapore untuk membawa pulang satupun medali emas. Akibat dari ketidak becusan bidang pembinaan prestasi dalam menyusun tim dari pemilihan pemain dan pelatih yang ada khususnya pelatih putra. Bukannya prestasi dari pemenuhan target pencapaian medali emas yang didapat tetapi prestasi membuat sejarah baru tenis Indonesia tidak membawa pulang medali emas sejak Indonesia bergabung dalam SEA Games pertama kali. .

Adalah Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP Pelti, Donald Wailan Walalangi (selaku manajer tim tenis Asian Games/SEA Games)bersama wakil ketua bidang pembinaan prestasi PP Pelti Roy Therik (pelatih tim putra Asian Games/SEA Games) telah memberikan janji ataupun target medali emas kepada Satlak Prima yang dibentuk oleh Kemenpora. Setahun sebelumnya  hal yang sama untuk event Asian Games 2014.Lebih tragis sekali menurut saya, sewaktu persiapan Asian Games 2014, Pelti menargetkan medali emas disektor ganda putra pasangan Christopher Rungkat dan Elbert Sie. Persiapan mendapatkan medali emas itu tidak dilaksanakan sepenuhnya, karena Christopher Rungkat lakukan try out disamping mengejar peringkat dunianya, tetapi Elbert Sie dibiarkan bertahan sebagai pelatih petenis yunior dikota Bandung. Hal ini sudah saya laporkan ke petinggi Pelti sendiri.

Teringat saya di era Martina Widjaja sebagai Ketua Umum PP Pelti, ketua bidang pembinaan senior berani menolak berikan target medali emas dalam event Asian Games , ketika diminta oleh KONI/KOI saat itu. Bahkan secara ksatria katakan tenis tidak ikut Asian Games karena ditargetkan harus bawa medali emas. Ini semua karena memiliki pengetahuan peta kekuatan tenis di Asia saat itu  yang sebenarnya mudah dimonitor, dan tidak mau bertindak ABS (asal bapak senang) .

Saya tergerak menyoroti keluhan keluhan datang dari rekan rekan di Pengda Pelti. Yang sudah tidak tahan dengan situasi pertenisan kita ini. mulai dari masalah internal Pelti, baik komunikasi antara Pusat dan Daerah. Pengda Pelti adalah kelanjutan tangan  dari Pusat , sehingga program program dari Pusat dijalankan oleh Pengda  bersama Pengcab Pelti didaerah masing masing. Pengda Pelti juga yang menentukan dalam pemilihan Ketua Umum didalam Musyawarah Nasional (Munas) Pelti.
Ketertarikan menyoroti langkah PP Pelti juga bertambah, berkaca dari pengalaman lebih dari 10 tahun lalu di Pelti.

Di era ketua umum Martina Widjaja, komunikasi antara Pusat dan Daerah sangat dijaga sekali sehingga ada keharmonisan  bekerja dalam rangka menjalankan visi dan misi diacara Munas.

Rasa penasaran muncul, mengapa Donald Wailan Walalngi dan Roy Therik yang keduanya besar di tenis, tidak punya sense of belonging and responsibility?

Sejumlah pelaku tenis didaerah daerah  mengeluh masalah terputusnya komunikasi antar Pusat dan Daerah sehingga  banyak Pengda Pelti mulai acuh terhadap Peltinya sendiri. Jika ada masa bhaktinya habispun sudah tidak mendapatkan perhatian. Apalagi ditingkat cabang lebih gawat lagi.

Oleh sebab itu masuk akal jika ada keinginan dari Pengda Pengda agar ada resuffle dalam kepengurusan sekarang. Atau adakah cara lain sehingga bisa mengangkat kembali pertenian Indonesia.

Bisa jadi Pengda Pengda akan menuntut terhadap Ketua Umum PP Pelti agar kabinet yang dibentuknya itu diperbaiki karena sudah terlihat didalam Pengurus Harian saja sudah terjadi pengelompokan pengelompokan. 

Tidak lupa ketika Munas 2012 suara yang diberikan kepadanya hanya beda tipis dengan saingannya. Berarti banyak daerah yang tidak memilihnya, terutama Pengda Pelti DKI Jakarta.

Lebih baik Tenis Indonesia  ini kehilangan seorang Ketua Bidang ataupun Ketua Umum sekalipun  dari pada kehilangan pamor di Asia Tenggara.

Tidak ada komentar: