Jumat, 26 September 2008

Nasib Petenis Putri Tidak sportip ( 2 )

27 September 2008. Bukan berarti kasus curi umur hanya terjadi di kelompok petenis putra saja. Karena dari pengamatan selama ini jumlah di kelompok putri cukup banyak.
Selama pengumpulan data copy akte kelahiran disetiap Turnamen nasional yunior di tahun 2007, August Ferry Raturandang menemukan juga dikelompok putri.
Perlu juga diketahui oleh masyarakat tenis, akibat perbuataan tak terpuji ini sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Memang awalnya dikelompok umur yang lebih rendah amat menghambat prestasi bagi petenis yang jujur. Ini kekhawatiran munculnya dari orangtua yang merasa dirugikan oleh pencurian umur tersebut.
Apakah penting juara dikelompok umur 10 tahun kemudian 12 tahun dan 14 tahun ? Sebenarnya diusia muda tersebut, anak anak tidak perlu dibebankan harus menang apalagi juara. Ini suatu beban moril bagi anak anak yang seharusnya bisa bermain tenis dengan gembira alias “enjoy”. Sangat disayangkan sekali kalau ambisi ini datangnya dari orangtua. Kalau pelatih sih tidak heran karena butuh POPULARITAS atas hasil kerjanya.

Dari pengamatan August Ferry Raturandang, bagi atlet putri yang terlibat kasus 2 akte kelahiran beda tahun, prestasinya tidak sehebat dibayangkan masyarakat tenis.
Seabagi contoh petenis Deffi Sabila Putri (1996-1997), Dhara Ayu Pramushinta (1995-1996), Dini Mega Pratiwi (1993-1994)tidak kelihatan nasibnya. Petenis Feronika Katarina ( 1992-1994) di PNP KU 18 th peringkat 39 begitu pula peringkatnya di kelompok umum hanya posisi 36, Nasib yang sama dialami Irsa Prima Puspita(1993-1995), Megawati Yugistiara (1995-1997), Nurmalita Ruwi Aliffahmawati (1993-1994) sudah tidak kedengaran prestasinya.
Praktis prestasi petenis ini tidak berjalan seperti dikehendakinya. Bisa berprestasi dikelompok umur yang lebih rendah atau diusia lebih muda, tetapi begitu masuk kekelompok umur lebih tua, tidak akan terlihat hasil yang lebih baik. Ini faktanya.

Banyak pula petenis yang diragukan keabsahan akte kelahirannya, karena selain bentuk postur tubuh, begitu juga akte kelahiran pemutihan dibuatnya sekitar 6-10 tahun setelah kelahirannya. Ikuti saja perkembangan atlet atlet curi umur ini, selama belum sadar atas kesalahan yang diperbuatnya.

Menurut August Ferry Raturandang, sewaktu bertemu dengan salah satu orangtua petenis yang minta pengampunan atas perbuatannya, secara pribadi katakan kalau tidak butuh atlet atlet bermental demikian, jika ingin pertenisan Indonesia maju.
Anjuran diberikan adalah agar mengikuti kelompok umur diatasnya, jika ingin prestasi lebih tinggi Banyak orangtua buta, sehingga sangat berapi api katakan kalau anaknya mempunyai BAKAT sebagai salah satu factor yang bisa mendukung pembinaan atlet. Apalagi pandangan datang dari orangtua yang bukan pemain tenis. Hanya dapat masukan dari pelatih. Bagi masyarakat tennis yang bukan pemain tennis, lebih percaya bahkan minta pengasihan agar tidak dihukum.
Karena factor pendukung lainnya adalah DANA, maka dimanfaatkannya turnamen turnamen yunior nasional yang memberikan hadiah uang. Caranya, turunkan umurnya sehingga bisa menjadi juara.

Masih banyak lagi petenis yang dicurigai keabsahan usianya. Tetapi melihat perkembangan prestasi mereka ini tidak akan berbeda jauh dengan yang jelas jelas tertangkap basah punya 2-3 akte kelahiran berbeda tahun.

Kelihatannya masih ada peluang tetapi sangat berat bagi petenis tidak jujur ini, jika masih mengharapkan putra dan putrinya bisa hidup dari Tenis. Ikuti saja turnamen kelompok umum yang so pasti sediakan hadiah UANG.
Dapat Uang , dapat PRESTASI, karena kemampuannya akan diuji oleh senior seniornya. Ini jalan terbaik. Karena saat ini turnamen kelompok umum sudah mulai berkembang di kalender TDP 2008

Dari pengamatan selama ini banyak alasan yang menyebabkan atlet memiliki Akte Kelahiran Pemutihan yang pembuatannya bisa sampai 10 tahun bahkan lebih. Bukan berarti mereka ini terlibat akan kasus kasus kurang sportip. Bahkan ada yang sudah pernah memiliki akte kelahiran tetapi hilang sehingga membuat akte baru dengan tidak merubah tahun kelahirannya. Jadi sah sah saja.

Disaat August Ferry Raturandang mengumpulkan copy akte kelahiran di setiap Turnamen nasional yunior, banyak usulan datang dari orangtua yang sangat mendukung tindakan ini. Tetapi mereka juga ngotot agar pembuktian bisa dilakukan dengan pemeriksaan medis melalui Rumah Sakit POLRI. Bahkan ada orangtua yang mau jadi sponsor agar bisa ditelusuri pemalsuan tersebut. Tetapi kelihatannya hanya sampai dalam ucapan saja. Bahkan terakhir kalinya pelatih Bunge Nahor bersedia menyelidiki kasus ini karena ada yang mau jadi sponsornya.

Sebenarnya hal ini bisa dilakukan dengan menghubungi langsung Kantor Catatan Sipil yang sekarang banyak berubah namanya menjadi Dinas Kependudukan dan catatan Sipil, atau Dinas Transmigrasi Kependudukan dan Catatan Sipil. Nama nama ini bisa berbeda beda antara satu provinsi denganprovinsi lainnya. Jika sudah mendapatkan nomor aktenya maka bisa dimintakan ke kantor catatan sipil. Begitu juga sekolah dasar dimana tempat anak itu sekolah.

Saat ini telah dibentuk forum komunikasi oleh orangtua petenis yunior setelah kasus curi umur diangkat oleh August Ferry Raturandang. Dibentuk saat berlangsung turnamen nasional di Cilacap tahun 2007. Jikalau anggotanya berasal dari orangtua petenis yunior diseluruh TDP, maka sebenarnya sangat mudah sekali. Kerahkan anggotanya yang berdomisili dengan kota dimana atlet yang dicurigai keabasahannya. Dapat nomor Aktenya maka hubungilah kantor catatan sipil yang mengeluarkan akte tersebut. Mudah kan ! Silahkan coba !
(habis)

Prestasi Atlet Catut Umur ( 1 )

27 September 2008. Menerima keluhan setiap saat selalu datang kepada August Ferry Raturandangyang sudah merupakan santapan rutin. Apalagi selama ataupun setelah selesai berlangsungnya turnamen nasional yunior. Masalah ini bisa dikatakan masalah klasik sehingga disetiap cabang olahraga sering terjadi hal ini. Dan dari tahu ketahun selalu terjadi.

Memang untuk membina seorang atlet tenis bukanlah hal yang bisa dilakukan secara pintas atau instan. Karena banyak faktor yang harus diperhitungkan seperti bakat diikuti pula dengan disiplin ( petenis maupun pelatih) didukung pula dengan memiliki program yang jelas dengan pembimbing atau pelatih berkualitas. Tetapi jangan lupa pula factor terakhir yang cukup berat adalah DANA.

Akibat dari keinginan ataupun semangat mengebu gebu datangnya dari PELATIH dan ORANGTUA, bukan dari atlet sendiri sehingga keinginan jalan pintas yang digunakan karena faktor faktor diatas tersebut sulit dihadapinya. Apalagi melihat faktor DANA pegang peranan penting sehingga memanfaatkan kesalahan dilakukan oleh pelaksana turnamen yang kuatir kurangnya peminat, memberikan hadiah UANG yang seharusnya TABU. Memanfaatkannya sehingga dipakai sebagai lahan cari DANA menutupi kekurang mampuannya.

Memang kalau dilihat pencurian umur sering terjadi di kelompok usia lebih muda, seperti di kelompok umur 10 tahun, 12 tahun dan 14 tahun. Tetapi bukan berarti tidak ada di kelompok diatasnya.

Dari pengamatan selama ini, oleh induk organisasi dibuatlah regulasi terhadap ketentuan persyaratan peserta yaitu Akte Kelahiran dan Buku Rapor. Kenyataannya kedua persyaratan ini tidak selamanya utuh didalam mengikuti regulasi tersebut. Ada saja alasan yang dikemukakan baik oleh Pelatih maupun orangtua. Memang banyak pihak ngotot katakan yang sulit dipalsukan adalah rapor kelas 1 Sekolah Dasar. Apa betul ?

Maka tidaklah heran banyak petenis yang tidak bisa menunjukkan copy rapor kelas 1 SD-nya dengan alasan yang seragam yaitu TERBAKAR. Bisakah dibayangkan 1-4 petenis dibawah naungan satu pelatih tersebut buku rapornya terbakar. Entah dimana terbakarnya tidak ditanyakan karena tentunya diberikan jawaban jawaban lain yang sudah disiapkan. Karena pelaksana Turnamen bukan seorang investigator, sehingga semua alasan tersebut ditelan mentah mentah dan tidak mau repot dan tidak mau cari musuh. Bisa dibayangkan ada pelatih yang sampai saat ini beberapa atletnya diragukan usia petenisnya. Sudah merupakan rahasia umum baik di Jakarta maupun Kudus, siapa pelatih yang dimaksud.

Coba diperhatikan prestasi dari atlet tenis yang dicurigai usianya. Mayoritas akte kelahirannya akte pemutihan istilahnya artinya dibuat setelah lebih dari 2 (dua) bulan tanggal lahir. Kalau hanya lebih 1-2 tahun bukan masalah tetapi banyak sekali diatas 5 tahun sampai 10 tahun. Ibaratnya sudah bermain tenis baru dibuatkan akte kelahiran “baru”.

Kejutan juga bagi August Ferry Raturandang yang mendengar langsung dari salah satu orangtua petenis dari Jawa Tengah yang terlibat catut umur saat bertemu untuk minta maaf ke August Ferry Raturandang, kalau ada orangtua yang memiliki 2 buku rapor. Alasannya dibuat 2 buah karena kuatir hilang. Apakah Betul ? Tentunya data yang dibuatnya bisa diatur pula sehingga yang dibawa bawa adalah duplikat yang sudah disesuaikan.

Pengamatan selama ini petenis yunior yang terlibat kasus curi umur dengan membuat 2 atau 3 akte kelahiran, prestasinya tidak ada yang menonjol.
Coba dilihat, seperti Cahyadi Arifin dari Cimahi. Oleh pelatihnya di Bandung katakan kalau petenis ini korban dari pelatih Kudus yang membujuknya. Petenis ini harus dikasihani karena latar belakang keluarga yang jatuh miskin. Kasihan sebagai alat pembenaran akan perbuatannya . Prestasinya di Peringkat Nasional Pelti kelompok yunior, dari 93 atlet putra tidak tercantum namanya. Di kelompok umumpun ternyata tidak ada prestasinya alias tidak tercantum namanya. Kemana ? .

Hal yang sama terjadi bagi petenis yang terlibat catut umur selama ikuti turnamen di tahun 1997 dan prestasinya berdasarkan PNP yang dikeluarkan 15 September 2008. Aditya Gusma Alfarizi ( 2 akte tahun 1995 dan 1996). Andrea Guntara (1994-1995) di PNP KU 14 th peringkat 30, Akad Subekti (1990-1991) di PNP KU 18 tahun hanya di peringkat 60. Alfonso Rianta Bangun (1992-1993) di PNP KU 16 th, peringkat 70. Alim Bagus Prakosa (1996-1997). Dwi Arief Alfianto (1997-1998) . Fernando Julianta Bangun (1994-1995) PNP 14 tahun, peringkat 91, Habib Angga Perdana (1992-1993) di PNP 16 th peringkat 69. Randi Purnomo (1989-1991) tidak ada peringkatnya. Rizal Ansharandaru (1996-1997) tidak ada peringkatnya Begitu pula dengan Setyawan Teger Laksono (1994-1995) tidak ada peringkatnya. Ini sekedar gambaran prestasi yang dicapai oleh atlet2 putra yang jelas jelas terlibat catut umur alias tidak jujur.

Tanpa disadari oleh pelatih maupun orangtua, secara psikologis atlet tersebut sudah terbebani sehingga seharusnya atlet bertanding dengan “enjoy” bukan sebaliknya.
Yang menjadi pertanyaan, apakah prestasi mereka bisa meningkat ke tingkat nasional ataupun internasional ? ( Bersambung )

Rabu, 24 September 2008

Mengenal PERSAMI

24 September 2008. Salah satu kebutuhan bagi setiap atlet adalah kompetisi, selain latihan setiap hari selama ini sudah dilakukannya. Tetapi melihat situasi dan kondisi perekonomian Indonesia, sehingga disaat krisis ekonomi maka muncullah kesulitan akan sponsor turnamen. Harus diakui beaya terbesar di turnamen adalah hadiah, wasit, ballboys, bola, sewa lapangan dll.

Timbullah idea untuk mengatasi permasalahan diatas dengan turnamen PERSAMI (Pertandingan Sabtu Minggu). Dalam perjalanan waktu sejak tahun 1996 sampai sekarang sehingga muncullah Persami Piala Ferry Raturandang yang sudah memasuki ke 55 kali.

Kapan diselenggarakan Persami ?
Diselenggarakan disaat petenis tidak sekolah yaitu Sabtu (setelah jam sekolah) dan Minggu. Diluar jam pelajaran sehingga tidak perlu bolos sekolah.

Siapa yang selenggarakan ?
Seperti juga dengan TDP (Turnamen Diakui Pelti), maka Persami bisa diselenggarakan oleh perorangan, klub, badan usaha ataupun Pelti sendiri bisa selenggarakannya.
Jadi sangat salah sekali kalau perorangan, klub ataupun badan usaha dilarang selenggarakan.

Bagaimana penyelenggaraannya ?
Pertandingan dilakukan tanpa gunakan WASIT, BAllboys, maupun tenaga penitia secukupnya. Peserta diwajibkan menghitung sendiri , bagi yang menang akan melapor ke meja pertandingan dan membawa bola.

Bagaimana dengan bola ?
Bola tidak hatus digunakan bola baru, tetapi layak digunakan. Pengalaman selama ini bola Piala Ferry Raturandang awalnya menggunakan bola baru kemudian seterusnya sampai final menggunakan bola bekas tersebut.

Apa tujuannya ?
Persami ini mendidik atlet jujur, tidak curang. Dan berhak menegur penonton (pelatih, orangtua) yang memberikan dukungan berlebihan jika merasa terganggu. Disamping itu mendidik atas hak dan kewajiban sebagai atlet tenis disuatu pertandingan.

Bagaimana dengan hadiah ?
Hadiah cukup diberikan piala dan Piagam. Jika ada yang mau menyumbangkan hadiah dalam bentuk barang, dapat diterima. TIDAK DIPERKENANKAN BERIKAN UANG.

Dimana saja Persami telah dilaksanakan ?
Selama ini Persami telah dilaksanakan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jatim, Bali, Sumsel, Sumut, Kalbar, Sulut dan Sulsel. Sedangkan AFR sudah melaksanakan Persami dikota kota Bandung, Cilegon, Sidoarjo, Palembang, Manado dan Jakarta.

Darimana Dana pelaksanaannya ?
Untuk menutup beaya pelaksanaan maka didapatkan dari ENTRY FEE peserta. Persami bisa dilaksanakan tanpa SPONSOR.

Bagaimana mengatasi Orangtua yang Sering protes ?
Agar diberitahukan (dalam bentuk Pengumuman) jikalau status orangtua/pelatih disuatu turnamen adalah PENONTON, bukan PESERTA. Jadi yang datang melapor ataupun membayar uang pendaftaran(Entry fee) adalah peserta. yang dimaksud peserta adalah petenis yunior tersebut (untuk Persami Yunior). Ingat Orang Tua ataupun Pelatih Bukan PESERTA.

Bagaimana Rahasia Piala Ferry Raturandang bisa berjalan sampai ke 55 kalinya ?
Justru tanpa sponsor maka Piala Ferry Raturandang bisa berlangsung rutin setiap bulannya. Kelemahan mempunyai sponsor adalah bisa menjadikan bumerang pelaksana jika tidak ada sponsor maka tidak bisa selenggarakan Persami.

Selasa, 23 September 2008

Mau Jadi Linesman

23 September 2008. Jika Anda ingin menjadi wasit/Hakim Garis maka ikutilah panduan ini.
Hakim garis atau Linesman yang baik sangat penting bagi kelancaran suatu pertandingan. Dengan keputusan yang tepat pada garis maka pekerjaan wasit relative lebih mudah. Apabila ada kesalahan-kesalahan dari hakim garis seperti call yang terlambat dan keputusan yang dirubah maka wasit akan menghadapi masalah.

Hal-Hal Dasar yang Harus Diingat :
 Setiap saat berkeinginan untuk membuat keputusan yang tepat
 Pandangan dan suara harus meyakinkan-selalu menjual suara/call anda
 Gunakan tehnik yang dianjurkan
 Jika bola menyentuh garis maka bola tersebut adalah masuk/baik
 Yang paling penting adalah suara, signal dilakukan berikutnya
 Selalu berkonsentrasi
 Berada tepat waktu pada kewajiban dan lapangan yang menjadi tugaas anda

Tugas-Tugas Penjaga Garis :
 Ambillah posisi yang memungkinkan anda mendapatkan ruang pandang yang baik terhadap garis anda. Jika anda terhalang oleh pemain penerima servis, bergeraklah kedalam atau keluar
 Buatlah call/keputusan pada bola yang jatuh digaris anda. Tidak berkomentar atau memberikan keputusan terhadap garis yang menjadi tanggungjawab hakim garis lain atau wasit
 Apabila pemain mengarah kepada anda dan menghalangi pandangan anda, segera membuat sinyal tidak melihat (unsighted signal)
 Segera perbaiki keputusan yang salah. Penjaga garis yang baik pun dapat membuat kesalahan. Jika anda menyadari bahwa anda berbuat kekeliruan, maka segera ucapkan koreksi/correction
 Tetap diam jika wasit merubah keputusan yang telah anda buat. Jika pemain menanyakan kepada anda atas keputusan yang telah anda buat tunjuklah kearah wasit agar pertanyaan tersebut diarahkan kepadanya
 Ucapkan “foot fault” jika anda ditugaskan pada garis belakang (baseline), garis sampinng (sideline) dan garis servis tengah (center service line)
 Ucapkan “net” jika bertugas sebagai net judge
 Melaporkan secepatnya kepada wasit setiap pelanggaran yang tidak dilihat ataupun tidak didengar oleh wasit
 Tidak menangkap bola atau memegang handuk untuk pemain
 Tidak berbicara dengan penonton
 Tidak memberikan dukungan/aplaus pada pemain, walaupun tidak dalam waktu bertugas
 Tidak boleh meninggalkan lapangan tanpa izin wasit

Tehnik Dasar Bagi Hakim Garis

Sikap
Selalu kelihatan berjaga-jaga dan menyenangkan. Hakim garis pada garis panjang harus berdiri dan pada garis melintang harus duduk.

Ucapan
Ucapan/call selalu lebih dulu dari pada sinyal;
Ada 5 macam ucapan/call yaitu:
 Out
 Fault
 Foot Fault
 Let
 Correction
Ucapan/call anda harus cepat (segera setelah bola jatuh) dan keras (cukup keras untuk memberhentikan permainan dan dapat didengar oleh penonton). Buatlah call pada setiap bola yang jatuh di luar lapangan.

Sinyal Tangan
Ada 4 macam sinyal tangan
1. Out atau Fault
Tangan lurus kesamping mengarah kebagian luar bola yang jatuh diluar atau fault (servis yang salah).
Sinyal tangan harus dibuat setelah ucapan/call. Tunggu posisi sinyal tangan beberapa saat agar wasit dapat melihatnya.

2. Foot fault, Correction dan Net
Tangan lurus keatas bersamaan dengan ucapan foot fault, correction atau net dibuat.

3. Safe Signal
Bagian belakang tangan rapat dan dilihat oleh wasit. Anda harus memberi safe signal pada tiap bola jatuh kira-kira 1 meter di dalam lapangan

4. Unsighted
Kedua tangan rapat didepan muka dibawah mata. Tetap melihat bola yang dimainkan.

Kapan dan Bagaimana Cara Mengawasi Garis

Bagaimana anda mengawasi garis merupakan bagian penting dari ketepatan.
 Jangan mengikuti bola yang menuju kearah garis terus menerus. Gerakkan sedikit kepala anda sehingga anda mengetahui dimana bola tersebut, kemudian
 Kembali pandangan ke garis sebelum bola mendarat
 Kepala anda tetap dan pandangan/mata difokuskan ke garis dan area dibelakang garis.
 Jangan melihat ke garis terus menerus selama rally berlangsung
 Pada garis servis, perhatikan persiapan pemain yang akan melakukan servis (server), saat server melemparkan bola keatas untuk melakukan servis, fokuskan pandangan ke garis dan area dibelakang garis.


Saat Point Terjadi
 Di lapangan keras, lihat kearah wasit saat point terjadi (setelah membuat call/signal)
 Di lapangan tanah, pandangan tetap kearah bola, tetapi harus awas dengan ucapan yang dibuat oleh wasit
 Jangan memandang garis secara terus menerus setelah membuat suatu keputusan yang bolanya jatuh dekat garis

CHECK LIST HAKIM GARIS

KEWAJIBAN
 Tepat waktu
 Berpakain rapi dan sopan
 Hanya melakukan call terhadap garis yang ditugaskan saja
 Ambillah posisi yang tepat
 Buatlah tanda tidak melihat (unsighted) apabila tidak dapat membuat keputusan
 Perbaiki kesalahan call secepatnya (correction)
 Lakukan call terhadap kesalahan kaki (foot fault)
 Laporkan kepada wasit pelanggaran kode etik yang dibuat oleh pemain
 Tidak dibenarkan menangkap bola atau handuk untuk pemain
 Tidak dibenarkan berbicara dengan penonton
 Tidak dibenarkan meninggalkan lapangan tanpa seizing wasit
 Tidak memberikan dukungan/aplaus kepada pemain

TEHNIK Ikuti tehnik yang dianjurkan
 Pekerjaan penting anda adalah membuat call/keputusan yang tepat
 Pandangan dan suara anda meyakinkan untuk menjual call yang anda buat
 Setiap bola yang menyentuh garis (tidak perduli betapapun tipisnya) hal tersebut adalah bola yang masuk

SIKAP
 Tetap Berjaga-jaga
 Merasa menyenangkan
 Jangan jadikan diri anda pusat perhatian
 Garis menyilang-duduk
 Garis panjang-berdiri

SUARA
 Cepat dan tepat
 Cukup keras sehingga dapat memberhentikan permainan
 Jangan melakukan call sebelum bola menyentuh bagian luar lapangan dan harus membuat call pada setiap bola yang keluar

SINYAL TANGAN
 Suara harus lebih dulu, baru diikuti oleh sinyal tangan
 Setelah sinyal baik/tidak melihat (safe signal/unsighted signal), tetaplah memperhatikan permainan
 Tahan sinyal anda beberapa saat agar wasit melihatnya

MELIHAT BOLA
 Pusatkan penglihatan ke garis dan bagian belakang garis
 Antisipasi arena dimana bola akan jatuh
 Palingkan kepala dan pusatkan/fokuskan pandangan pada target/tempat bola akan jatuh
 Jangan melihat/mengikuti bola terus menerus hingga ke garis
 Jangan melihat garis terus menerus selama rally berlangsung

SAAT POINT TERJADI
 Pada lapangan keras – kontak mata dengan wasit pada saat point terjadi (call-signal)
 Pada lapangan tanah – pandangan tetap kea rah bekas bola – tetapi dengar apa yang diucapkan wasit
 Jangan melihat kea rah pemain setelah anda membuat suatu keputusan yang bolanya jatuh dekat garis

Senin, 22 September 2008

Kasus kasus dalam lapangan Pertandingan

22 September 2008. Beberapa kasus sering terjadi di turnamen tenis selama ini yang perlu diketahui masyarakat yang belum familier dengan peraturan tenis. Terutama kalau dilihat di turnamen rekreasi artinya turnamen bukan TDP seperti di sport club. Masalahnya muncul karena selain pemainnya tidak tahu akan aturan tenis, begitu juga wasit yang bertugas bukanlah wasit nasional artinya wasit yang tanpa penataran wasit.
Aktivitas pertandingan tenis dikalangan veteran cukup banyak di Indonesia, tetapi masing masing pihak selalu menyatakan kebenarannya yang sebenarnya tidak benar.

" Bola melewati lubang antara tiang net dan net ( kebetulan netnya ada celah ), apakah boleh ?" Ini pertanyaan sering muncul. Kita ketahui kalau permainan ganda (double) tiang net (permanent yg tidak bisa dipindah) jikalau netnya ukuran tidak penuh maka ada celah celah yang masih memungkinkan bola masuk. Menjawab pertanyaan diatas, maka jika bola tersebut tidak mengenai tiang ataupun netnya dan bisa terobos masuk, maka bola itu sah. Jika menyentuk tiang atau netnya maka bola tidak sah.

" Bola bergulir kelapangan lawan (sudah lewati net) kemudian balik (akibat under spin/slice) kembali lewati net masuk kedalam lapangan sendiri, apakah lawan boleh memukul dengan raket melewati net ?" Jawabannya selama tidak mengenai net , raket atau badan lawan maka lawan boleh memukul bola melewati net tersebut.

"Jika bola bergulir diatas net (belum jatuh), apakah lawan boleh memukulnya atau menyentuhnya ?" Jawabannya, karena bola belum 100 % (sepenuhnya) masuk kelapangan, maka bola tersebut belum boleh dipukul.

" Dalam permainan single dilapangan double, apakah boleh pemain menyentuh net antara tiang dan single stick ?" Jawabannya adalah boleh, karena tiang net dianggap sebagai permanent fixtur (perlengkapan tetap) , tetapi kalau bola menyentuh permanent fixtur maka tidak boleh.

" Apa saja yang dimaksud dengan permanent fixturs?" Yang termasuk adalah kursi wasit, tiang net, atap lapangan (indoor), tiang lampu, Kursi Wasit/Linesmen/Pemain, Scoring board, Linesmen ( diposisinya)

" Apa yang dimaksud dengan foot fault?" Yang dimaksud adalah kesalahan kaki pada saat lakukan pukulan serve, kaki menginjak garis atau melewati garis imaginer (bayangan). Tetapi jika saat bola kena raket, kaki meloncat lewati garis maka tidak foot fault. Disini dibutuhkan kecermatan mata Wasit/Linesmen.
Sering kita lihat pertandingan ataupun latihan, servis dilakukan sudah melewati garis samping lapangan atau garis ditengah lapangan baseline. Ini tidak diperkenankan.

Pernah kejadian dilapangan indoor turnamen tenis ganda putra dalam rangka HUT Askes. Di final antara dr. Eric Gultom berpasangan dengan dr. Basuki Mulyono melawan pasangan yang tidak dikenal namanya, terjadilah protes keras oleh dr. Eric Gultom.
Saat pertandingan berjalan terjadilah bola harus diulang menurut wasit. Karena ada handuk yang jatuh dari pemain lawan disaat adu reli. Tetapi muncul protes keras dari dr.Eric Gultom yang merasa dirugikan. Saat itu dr. Samuel Simon yang duduk menyaksikan disamping August Ferry Raturandang diminta pendapat mengenai kasus ini karena dianggapdari Pelti. Karena tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi, AF Raturandang tidak mau beri komentar." 'Kan ada Referee, silahkan tanya ke Referee saja."
Ada 2 versi terhadap kasus ini. Ada yang katakan kalau handuk jatuh kemudian reli sudah berjalan 2-3 kali pukulan. Ada yang katakan kalau hanya sekali.
Kita semua harus banyak belajar atas peraturan tenis cukup dari kasus kasus di lapangan.

Piala Davis Yang Kharismatik

Jakarta, 19 September 2001. PB Pelti akan menjamu tim tenis Cina dalam kejuaraan dunia tenis beregu Piala Davis zone Asia Oceania Grup I di Pusat Tenis Kemayoran Jakarta 21-23 September mendatang. Drawing atau undian tentang kejuaraan itu sendiri berlangsung di Hotel Mercure Jakarta, Rabu(19/9) siang.
Ini adalah pertandingan yang amat menentukan baik bagi Cina maupun bagi Indonesia. Sebab,yang kalah akan terkena degradasi ke grup II. Sebelumnya, Indonesia pernah terkena degradasi , yaitu pada 1999. Namun Indonesia juga pernah pernah lolos dari grupI dan masuk grup dunia , yakni pada tahun 1982, 1988 dan 1994. Sebelum menyaksikan pertandingan itu, ada baiknya jika kita tengok dulu apa dan bagaimana Davis Cup itu.
Davis Cup adalah event tenis putra paling bergengsi di dunia. Begitu besarnya gengsi Davis Cup sehingga banya petenis legendaris yang begitu setianya kepada negaranya. Mereka selalu ikut jika diminta untuk memperkuat negaranya memperebutkan Davis Cup. Di antaranya adalah Dwight Davis, kakak beradik Doherty, Norman Brookes, Henri Cochet, Rene Lacoste, jean Borotra, Jacgues Brugnon, Fred Perry, Bill Tilden, William Johnston, Ted Schroeder, Donald Budge, Lew Hoad, Rod Laver, Ken Rosewall, Nicole Pietrangeli,Tony Trabet, Vix Seixas, Anthony Wilding, John Newcombe, Arthur Ashe, John McEnroe, Yannick Noah, Stefan Edberg, Boris Becker dan Andre Agassi.
Davis Cup pertama kali digelar pada 1900. Mulanya, Davis Cup hanya diikuti dua negara saja, yakni AS dan Inggris. AS mengalahkan Inggris 3-0 di Longwood,AS. Petenis AS Dwight Davis menang atas Ernest Black 46 62 64 64, kemudian Malcolm Whitman(AS) mengalahkan Arthur Gore 61 63 62. Ganda putra AS melengkapi kemenangan yaitu Dwight Davis/Holcolmbe Ward menang atas Roper-Barret 64 64 64. Partai Dwight Davis lawan Arthur Gore 9-7 9-9 tidak diteruskan karena AS sudah unggul 3-0.
Tahun 1901 tidak diselenggarakan perebutan Piala Davis tapi turnamen ini dilanjutkan pada 1902. kala itu, Amerika Serikat mengalahkan Inggris 3-2 di New York. Namum setahun kemudian Inggris mengalahkan AS 4-1 di Boston

Peningkatan
Peserta DavisCup dari tahun 1900 hingga tahun 1920 masih dibawah 10 negara. Jumlah peserta mengalami peningkatan dalam periode 1921-1923 menjadi 20 negara. Namun perkembangan jumlah peserta terasa lambat karena sampai tahun 1952, jumlah peserta Piala davis masih dibawah 30 negara. Namun pada tahun 1993, jumlah peserta meningkat jadi 100 negara dan tahun 2001 jadi 142 negara.
Secara fisik,Davis Cup merupakan piala yang sangat indah sekali yang disumbangkan oleh mahasiswa Havard University Dwight Filley Davis yang juga anggota tim Amerika Serikat pada tahun 1900. Piala ini terdiri dari tiga pokok yaitu piala perak dan dua penyanggah yang terbuat dari kayu.
Dwight Davis sendiri akhirnya meninggal tahun 1946, dalam karier hidupnya pernah menjabat Gubernur Jenderal Filipina. Meskipun begitu, turnamen Piala davis tetap bergulir. Bahkan, boleh dibilang Davis Cup memiliki kharisma yang begitu dashyat sehingga membuat petenis nomor wahid dunia menyesal bila tidak mengikutinya. Padahal, turnamen ini hadiahnya kecil dibandingkan turnamen Grand Slam.
Di antara pecandu Piala Davis terdapat nama Gustavo Kuerten(Brasil),Marat Safin(Russia),Andre Agassi(AS),Pete Sampras(AS),Boris Becker(Jerman),Stefan Edberg(Swedia). Bahkan John McEnroe mantan petenis nomor satu dunia sangat fanatik dengan Davis Cup. Petenis tempramental yang gemar membanting raket di lapangan itu pernah mengatakan, "Saya akan pergi kemana saja untuk membela Amerika di Piala Davis."
Pertandingannya sendiri dari awal dalam bentuk 4 tunggal dan 1 ganda dan sistem pertandingan adalah the best of 5 sets dengan tanpa tie break diset terakhir. Diawali hari Jumat untuk 2 tunggal yang dimainkan kemudian Sabtu untuk ganda putra dan Minggu 2 tunggal putra. Dans erentak dilaksanakan diseluruh dunia.
Puncak dari Kejuaraan Dunia Beregu Davis Cup adalah kompetisi Group Dunia (World Group) yang diikuti oleh 16 negara. Group dibagi 3 zone yaitu Amerika,Euro/African dan Asia/Ocenaia, yang mana setiap zone ini dibagi dalam group I,II,III dan IV.
Delapan pemenang Group I dari setiap zone akan bertemu dengan 8 peserta World Group yang kalah dibabak pertama setiap bulanSeptember babak kualifikasi group dunia. Pemenangnya ini akan maju ke group Dunia pada tahun depannya.
Awalnya Piala davis tidak mengenal hadiah uang, tapi sejak tahun 1981 perusahaan Jepang NEC bergabung ikut sebagai sponsor judul (title sponsor) Piala Davis pun kemudian mengenal istilah " prize money " yang jumlahnya mencapai 9,6 juta dolar. Sayangnya muali tahun 2002 NEC mengundurkan diri sehingga membuat ITF(International Tennis Federation) kelabakan mencari penggantinya.

Ini tulisan August Ferry Raturandang di Harian SINAR HARAPAN,halaman 9, Rabu, 19 September 2001

Motivasi Catut Umur

22 September 2008. Dengan merebaknya kasus curi umur atau catut umur, harus diketahui pula asal muasalnya sehingga pelaku pelaku tenis Indonesia berbuat yang sangat bertentangnan dengan azas olahraga yaitu sportivitas.
Menelusuri segala permasalahan selama ini di pertenisan Indonesia yang sangat kompleks, jika dibandingkan semasa masih aktif sebagai petenis yunior kemudian diikuti era putra putri sendiri mengikuti turnamen nasional (TDP) yang ada di Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Malang dan Surabaya.

Tanpa sepengetahuan induk organisasi tenis ditingkat Pusat, pelaksana turnamen nasional yunior telah melakukan kekeliruan didalam pemberian penghargaan kepada pemenang. Awalnya untuk membantu finansial orangtua, karena tenis di Indonesia mulai berkembang dengan pesat sesuai kemajuan zaman. Sehingga melupakan peraturan peraturan yang sudah mendunia, dimana tidak diperkenankannya setiap turnamen yunior diberikan hadiah dalam bentuk uang. Bahkan menawarkan hadiah uang juga diharamkan sekali oleh induk organisasi tenis dunia (ITF).

Dari tidak memberikan hadiah uang, kemudian diperlunak dengan memberikan hadiah dalam bentuk TABANAS (tabungan) dengan dalih agar belajar MENABUNG sudah ditanamkan kepada anak anak Indonesia. Kelihatannya sangat manis dan mendidik, karena setelah mendapatkan hadiah Tabanas, pemenang tidak bisa langsung mengambil uangnya karena harus mengendap dulu di Bank tersebut selama kurang lebih 2 bulan. Idea ini tidak tahu darimana datangnya.

Kemudian entah kapan munculnya hadiah uang secara sembunyi sembunyi, dengan berikan voucher pembelain barang di toko toko olahraga. Tapi orangtua banyak tidak puas, bahkan ada yang menuduh ada kongkalikong antara panpel dengan toko olahraga. Indikasi negatip dicuatkan. Setelah itu dibuatlah pemberian voucher dan dibagikan uangnya langsung dilapangan.

Dengan adanya hadiah uang memberikan dampak negatip terhadap pembinaan tenis yunior. Ada beberapa kemungkinan yang diamati selama ini sehingga bisa muncul inisiatip pemalsuan umur, terutama terjadi untuk kelompok umur 10 tahun dan 12 tahun. Bukan berarti dikelompok umur 14 tahun dan 16 tahun tidak ada, hanya prosentasenya masih kecil dibandingkan dikelompok umur 10 tahun dan 12 tahun.

Kemungkinan pertama adalah muncul inisiatip datangnya dari pelatih, yang ingin memanfaatkan promosi dirinya dari hasil suatu turnamen. Kemungkinan juga berasal dari orangtua yang juga jadi pelatih. Ingin mendapatkan uang sebagai pengganti beaya dan juga ingin mendapatkan nama.
Setelah itu ada juga beberapa pelatih dan orangtua memanfaatkan fasilitas dari Pemerintah Daerah yang harus diimbangi oleh prestasi sehingga pulang membawa nama baik daerah. Kecendrungan seperti ini bisa dilihat dari petenis yunior dari salah satu provinsi di Kalimantan yang mayoritas atlet tenis yuniornya memiliki akte kelahiran pemutihan. Ini bisa dipakai sebagai indikasi saja. Tetapi ada juga alasan yang diberikan orangtua adalah agar putranya tidak langsung kalah dibabak pertama. Ini alasan yang tidak bisa dipakai untuk membina petenis. Lebih baik menaikkan usia disuatu turnamen dibandungkan menurunkan usia untuk mengejar hadiah.

"Jadi agar tidak terulang kembali, setiap TDP tidak perlu menjanjikan hadiah uang."

Suatu kebanggaan bagi August Ferry Raturandang yang diminta sebagai advisor TDP ITF Oneject Indonesia Junior Champs 2008 di Bandung, panpel bisa mensukseskan turnamen tanpa diiming iming hadiah uang, dan berhasil. Bisa dijamin turnamen ini yang sudah menjadikan sebagai kebutuhan petenis yunior akan berlangsung setiap tahun. Tidak ada alasan untuk kuatir kalau tanpa hadiah uang maka turnamen tidak ada peminatnya. Ini yang paling penting, agar kasus pemalsuan umur bisa dihentikan sehingga prestasi tenis Indonesia bisa melambung kembali.

Kembali kepada pelaku pelaku tenis di Indonesia, maukah kita merubah semua ini menjadi lebih baik ?

Minggu, 21 September 2008

Catut Umur, Masalah Klasik

21 September 2008. Masalah curi umur atau catut umur adalah masalah klasik terjadi di tenis yunior maupun olahraga Indonesia, bahkan bukan hanya tenis tapi cabang cabang olahraga lainnya juga sangat menonjol. Ibaratnya Maling lebih lihai dari Polisi.

Setelah capek mengurus sendiri pendataan atlet yunior disetiap Turnamen nasional (TDP)selama tahun 2007, tetapi tidak didukung sepenuhnya baik oleh pelaksana TDP mulai dari Panpel sampai dengan Referee sekalipun. Tidak ada keinginan membantu ataupun mendukung bahkan menjurus melecehkan diterima selama ini. Ketentuan TDP sudah jelas kalau semua daftar nama atlet yang mendaftar diharuskan dikirimkan ke induk organisasi tenis yang berkedudukan di Jakarta, Pelti. Ini salah satu cara agar bisa mencegah kasus kasus curi umur. Tetapi dalam kenyataannya masing masing pihak seperti tidak punya kewajiban kirimkan daftar nama nama tersebut. Akibatnya pelanggaran sudah terjadi baru ketahuan setelah dikirimkannya hasil pertandingan.
"Ngapain pusing pusing, biaran aja AFR yang pusing." demikian ucapan yang masuk.

Bahkan untuk mencegah diturnamen berikutnya diupayaka agar bisa dicegah oleh petugas pertandingan dalam hal ini yang ditunjuk oleh Pelti yaitu Referee, tetapi responsnya sangat menyedihkan bahkan ada yang sampai melecehkan August Ferry Raturandang.
Penah kejadian di Senayan didepan mata August Ferry Raturandang mengirimkan surat ke Pelaksana TDP yunior dan memberitahukan kalau nama2 yang terlibat dengan 2 akte kelahiran yang berbeda tahun, tetapi hanya dapat tanggapan yang menyakitkan. " Oh , hanya memberitahukan saja." ujar Referee saat itu sambil berjalan angkuh seolah olah seorang penguasa lewat, dengan tidak menghormati seorang yang lebih tua dihadapan orangtua lainnya. Hanya karena bisa menahan diri saja sehingga dibiarkan begitu saja. Memang kalau diingat ingat sangat menyakitkan, tetapi karena menjelang MUNAS Pelti 2007 ( November 2007) sehingga ada pemikiran tidak usah cari musuh karena sudah mau lengser, maka kasus ini dibiarkan berlalu. " Atletnya yang terlibat kasus curi umur tetap dimainkan."
Bahkan ada pelatih dari Bandung yang atletnya punya 2 copy akte kelahiran, dimintakan agar AFR mau mengerti sebab-sebabnya sampai terjadi demikian. "Ya atlet tersebut keluarganya berantakan. Minta dikasihani."
Kenyataannya atlet tersebut prestasinya tidak ada yang melejit, dan hampir semua atlet yang terlibat atau dicurigakan mempunyai prestasi sampai disini saja. Maklu saja kasus curi umur terjadi disaat usia 10 th, 12 th dan 14 tahun. Masuk ke usia lebih diatasnya, prestasinya jalan ditempat.
Ini sekedar uneg uneg dalam menangani sendiri masalah pencatutan umur atlet tenis yunior selam tahun 2007.

Memasuki tahun 2008 dikuartal keempat, August Ferry Raturandang menerima laporan dari pelatih Bunge Nahor makin maraknya petenis yunior dalam pencatutan umur. Dari nama nama yang diberikan ternyata belum ada copy aktenya di file August Ferry Raturandang.

"Kita semua harus bisa saling bahu membahu membantu pencegahan pencatutan umur. Ini akibat TDP yunior banyak menjanjikan hadiah hadiah berupa uang cash. " ujar August Ferry Raturndang. Lebih sedih dan pahit rasanya mendapatkan tanggapan seolah olah kalau bukan TDP, halal hukumnya adakan turnamen yunior dengan hadiah uang.

" Bagaimana caranya mau bantu selediki kasus catut umur. Berikan surat penugasan kepada saya untuk selidiki kasus catut umur." ujar Bunge Nahor. Tetapi dijelaskan oleh August Ferry Raturandang , bisa lakukan penyelidikan tanpa surat penugasan kalau punya niat yang baik . "Penyidikan itu bukan tugas Pelti. Ada aparat yang punya tanggung jawab." ujar August Ferry Raturandang. Dianjurkan jika mempunyai copy akte kelahirannya, maka diketahui kantor Catatan Sipil yang mengeluarkan akte tersebut. Nanti Pelti akan kirimkan surat ke Kantor Catatan Sipil tersebut. Surat itu bisa dibawa sambil selediki langsung. "Saya punya pengalaman ditahun 1990an. Datang ke Kantor cacatan sipil Surabaya sudah mempunyai copy akte kelahiran petenis yunior tersebut, dan minta dicocokan."

OLeh August Ferry Raturandang sempat kecewa disaat ingin tahu keabsahan akte kelahiran petenis kelahiran Sumatra Selatan, awalnya mendapatkan informasi tetapi setelah dikirim surat resmi kekantor Catatan Sipil, mendapatkan jawaban bahwa akte tersebut sah. Tetapi di tahun 2008, August Ferry Raturandang menemukan bukti baru yaitu entry form Persami Piala Ferry Raturandang di Palembang, ternyata petenis tersebut yang juga ikuti turnamen tersebut, ditemukan tahun kelahirannya berbeda. Hanya sayangnya bukti itu lupa diletakkan dimana. Memang ada kelemahan dari entry form tersebut, apakah yang mengisinya atlet tersebut atau orang lain, ini perlu pembuktian. Sebagai pelipur lara ketika ada pelatih yang menanyakan atlet tersebut, August Ferry Raturandang katakan bisa dilihat prestasinya sampai dimana sekarang, melejit atau diam ditempat.

Bagaimana menghadapi tahun 2008 kedepan.? Menurut August Ferry Raturandang, sebaiknya semua pihak ikut membantu, terutama telah dibentuknya FORKOPI ( Forum Komunikasi Orangtua Petenis Indonesia ) yang awalnya cukup mengebu gebu, tetapi saat ini kelihatannya sudah tidak banyak tindak lanjut. Dalam diskusi yang dilakukan di Senayan, FORKOPI minta bantuan PP Pelti. tetapi hanya dalam forum tersebut inisiatipnya muncul.
Anjuran August Ferry Raturandang adalah jika ada indikasi atlet yang memalsukan umurnya, lihat ke copy akte kelahirannya. Setelah itu telusuri di kantor catatan sipil dimana dikeluarkan akte tersebut. Anggota FORKOPI itu tersebar diseluruh Indonesia, sehingga lebih mudah menelusurinya. Bisa juga cek dengan file yang ada sama PP Pelti. Ini harapan semua pihak agar bukan hanya wacana saja.
"Gitu aja kok repot repot. Tinggal mau apa tidak ."

Jumat, 19 September 2008

Cara Cegah Atlet Catut Umur di TDP

20 September 2008. Pembicaraan menarik hari ini antara Bunge Nahor dan August Ferry Raturandang mengenai masalah catut umur yang makin marak diturnamen nasional yunior. Bunge mengatakan sering ditanya orangtua petenis masalah tindak lanjut Pelti terhadap pencatutan umur. Selama ini August Ferry Raturandang sudah melakukan inventarisasi petenis yunior dari berbagai turnamen nasional yunior selama tahun 2007. Terkumpul copy akte kelahiran dari 607 atlet putra dan 300 atlet putri, karena motivasi saat itu untuk mengumpulkan copy akte kelahiran ini sebagai tindak nyata sebelum lengser dari PB PELTI yang habis masa kepengursan Nopember 2007. "Untuk membuktikan adanya catut umur di tenis yunior." ujar AF Raturandang sehingga mau berupaya secara pribadi menyelidiki kasus catut umur, dan sudah terbukti adanya akte kelahiran ganda dengan tahun berbeda sehingga membuat geger pertenisan yunior. Hal ini membuat banyak pihak tidak menyenangi apa yang diperbuat AF Raturandang, trermasuk pelaksana turnamen.

"Bagaimana caranya agar lebih tuntas pemalsuan umur tersebut." ujar Bunge Nahor. Memang ada usulan dari orangtua petenis kepada August Ferry Raturandang agar dilakukan pemeriksaan dokter dirujuk ke Rumah Sakit Polri, seperti yang dilakukan oleh PB PBSI. Secara diam diam AF Raturandang pernah menghubungi Lius Pongoh dari PB PBSI menanyakan hasil pemeriksaan dokter tersebut.
Jawaban didapat kalau tidak bisa membuktikan tahun yang tepat atas kelahirannya. Begitu juga oleh Pelti sendiri sudah pernah dicoba beberapa puluh tahun silam pemeriksanaan ke RS dan hasilnya sama.

Tetapi August Ferry Raturandang bisa sampaikan cara lainnya untuk mencegah kedepan adalah setiap pelaksana Turnamen bisa membuat Tournament Regulation sendiri sendiri untuk memperkuat. Hal ini tidak bertentangan dengan Ketentuan TDP yang sudah dibuat oleh PB PELTI saat itu. Dimana dalam persyaratan peserta disebutkan adalah Akte Kelahiran dan Buku rapor, tetapi dalam pelakasanaan TDP, setiap pelaksana TDP mengabaikan ketentua tersebut, karena tidak mau repot.

Andaikan menginginkan pencegahan atlet curi umur bisa dilakukan dengan cantumkan ketentuan dalam persyaratan peserta adalah yang memiliki akte kelahiran yang dikeluarkan oleh Catatan Sipil tidak lebih dari 5-6 tahun. Saat ini petenis yang dicurigakan usianya justru membuat akte kelahiran pemutihan yang kesannya sudah kenal main tenis baru dibuat.
Pengamatan AF Raturandang terhadap copy Akte Kelahiran yang dikumpulkannya, pemalsu umur semuanya akte kelahiran Pemutihan. Tapi tidak semua pemilik Akte Kelahiran Pemutihan yang memalsukan umurnya.

Nama nama atlet yang memiliki copy Akte Kelahiran melebihi 5 tahun waktu pembuatannya dari tanggal lahirnya , seperti Ahmad Maulana Baidzuri lahir di Tarakan 29-03-96 sedangkan pembuatan akte th 2002, Akses Dwiki Pamundi lahir di Banjarnegara 15-10-96 dan akte dibuat tahun 2006, Anshari Nursida lahir 21 -04-91 di Sragen dan akte dibuat th 2001 , Antonius Didi Saputra lahir di Boyolali 31-12-95, akte dibuat th 2005, Arga Rizki Setiadi lahir di Lombok 19-07-1991, akte dibuat 1999. Arief Noviantono Wahono lahir di Bantul DIY 08-11-1990, akte dibuat 2001. Arriya Mahendra Anugraha lahir di Bandung tanggal 13-12-91, akte dibuat th 2005. Arum Mananti Pradita lahir di Cirebon tanggal 24-11-93 dan akte dibuat th 2002. Bambang Subagyo lahir di Magelang tgl 19-04-89 akte dibuat th 2000. Daniel Anugrah Batubara lahir di Medan 21-07-94, kate dibuat th 2004.Deo Riesky Kurniawan lahir di Wonosobo 31-05-95 akte dibuat th 2005. Deprianur lahir di Kutai Kertanegara Kaltim tgl 10-09-95, akte dibuat th 2006. Devan Yusdiantoro lahir di Blitar 10-09-94 akte dibuat th 2004. Dheo Agustian Saputra lahir di Sambas Kalbar 18-08-92 akte dibuat th 2002. Dwi Wijayanto lahir di Tegal 08-10-93, akte dibuat th 2005. Egi Kurniawan lahir di Pekanbaru 31-07-93, akte dibuat th 2004. Eko Nur Hariyanto lahir di Jember 10-07-93, akte dibuat th 2007. Evander Pradana Putra lahir di Batang 29-11-94, akte dibuat th 2004. Faisal Pratama Afandi lahir di Kutai Kertanegara 17-12-93, akte dibuat th 2004. Fajar Lazaruzd lahir di Bengkulu 24-12-94 dan akte dibuat th 2000. Hendri Liviyanto lahir di Pekalongan 08-11-92 dan Akte dibuat th 2004.I Komang Fajar Udrayana lahir di Pati 17-02-96 Akte dibuat th 2004.Ibnu Nurmadi Setyawan lahir di Bojonegoro 05-12-97 Akte dibuat th 2007. Indra Adhiguna Utama lahir di Kab.Tangerang 25-05-97, akte dibuat th 2004. Issadam Khusni lahir di Kudus 11-08-92 dan Akte dibuat th 2000.Kasejendra Dhewanata lahir di Banjarnegara 22-01-95 Akte dibuat th 2007. Meachael Junaidi lahir di Pasaman 28-04-95 dan akte dibuat th 2001. Mochamad Miftahull Fallahlahir di Bandung 24-08-98 Akte dibuat th 2004. Muh.Hemat Bhakti Anugerah lahir di Kab.Tangerang 09-10-93 dan akte dibuat th 2004. Ngakan Made Indra Wijaya lahir di Gianyar Bali 28-12-93, akte dibuat th 2005. Qunitan Al-Aziz lahir di Salatiga 27-01-98 dan akte dibuat th 2007.Ramdan Khadavi lahir di Jakarta 10-03-94 dan akte dibuat th 2004. Resa Fahrial Anwar lahir di Samarinda 15-02-95, akte dibuat th 2005. Rio Larenta Sempati Hadaaiq lahir di Jember 05-04-95 dan Akte dibuat th 2005.Rizky Nuzul Ramadhan lahir di Ngawi 06-02-96 dan Akte dibuat th 2005. RMP Bagus Artana lahir di Jember 02-07-91 dan akte dibuat th 1997. Satria Saputra lahir di Sumbawa NTB 11-06-93 dan akte dibuat th 2005. Surya Bagus Rachmanto lahir di Pemalang 25-12-95, akte dibuat th 2001. Unika Septian Sutarno lahir di Karang Anyar 06-09-96 akte dibuat th 2005.Ammar lahir di Banjarmasin 16 Sept 1996 dan Akte dibuat th 2007, Panji Lintang MS lahir di Banjarmasin 25-07-90, akte dibuat th 2008.Qonitan Al-Aziz lahir di Salatiga 27-01-98, akte dibuat th 2007.Algha Kusuma Pratiwa lahir di Jakarta 24-01-98, akte dibuat th 2006.

Nama petenis putri Apressia Zolla Asmilan lahir di Blitar 01-04-97, akte kelahiran dibuat th 2006. Arum Mananti Pradita lahir di Cirebon 24-11-93, akte dibuat th 2002.Aryadita Kusumawardani lahir di Magelang 21-11-94, akte dibuat th 2001. Bella Destriana lahir th 1992 di Palembang, akte dibuat th 2004.Diajeng Retnaning Putri lahir di kediri 18-03-97 Akte dibuat th 2007.Diannisa Wibawanty lahir di Indramayu 19-12-95 dan Akte dibuat th 2006. Efriliya Herlina lahir di Trenggalek 24-04-95 dan Akte dibuat th 2006.Gisza Gabriella lahir di Cimahi 25-05-95, akte dibuat th 2003. Istiqomah lahir di Cilacap 23-07-93 dan Akte dibuat th 2005.Latifah Amylia Dinar lahir di Solo 15-03-97, akte dibuat th 2005.Lintang Ayu Triamy lahir di Jember 05-10-92 Akte dibuat th 2002. Nana Ulviana lahir di Bontang 23-03-92 dan Akte dibuat th 2003. Novia Dewi Arismaya lahir di Pekalongan 02-11-98 dan akte dibuat th 2008. Nurdiniah Andesita Hamzah lahir di Pemalang 15-12-96 dan Akte dibuat th 2007. Oktavia Ayu Dewi lahir di Blitar 30-10-97, akte dibuat th 2004. Putri Purnama Sari lahir di Balikpapan 03-03-97 dan Akte dibuat th 2005. Septika Dwi Maulina lahir di Lumajang 28-09-93 dan akte dibuat th 2006. Serly NurPutri lahir di Surabaya 24-09-98 dan akte dibuat th 2006.Tea Indhie Sahara lahir di batu Malang 05-12-96 dan akte dibuat th 2004. Uun Ina Prastiwi lahir di Klaten 12-07-95 dan akte dibuat th 2005.

" Coba lihat dari nama nama atlet dicurigai maupun yang sudah ketahuan catut umur, prestasi mereka tidak akan naik tinggi. Bahkan ada yang sudah memudar, karena catut umurnya dikelompok umur 10 tahun atau 12 tahun dan 14 tahun." ujar August Ferry Raturandang setiap menyampaikan kepada orangtua petenis yang kecewa atas kasus catut umur ini.

Kamis, 18 September 2008

Mengenal DOPING

20 September 2008. Dunia olahraga mengenai masalah DOPING, oleh IOC sudah banyak atlet Olimpiade ditemukan menggunakan obat obat terlarang.
Pengertian doping, didefinisikan sebagai terjadinya pelanggaran satu atau lebih peraturan anti-doping.

Pelanggaran peraturan anti-doping yang dimaksud adalah terdapat zat terlarang dalam sampel olahragawan. Kemudian juga menggunakan atau upaya menggunakan zat terlarang atau metode terlarang. Pelanggaran lainnya adalah Menolak atau gagal tanpa memberikan alasan yang benar, untuk menyerahkan Sampel setelah pemberitahuan sebagaimana disahkan dalam peraturan anti-doping yang berlaku atau mengelak mengumpulkan Sampel dengan alasan lainnya. Pelanggaran syarat-syarat yang berlaku berkaitan dengan kesediaan Olahragawan untuk pengujian di luar kompetisi. Merusak, atau upaya untuk merusak, terhadap bagian apapun dari pengawasa doping. Memiliki Zat da metode terlarang. Memperdagangkan atau upaya memperdagangkan zat terlarang atau metode terlarang. Memberikan atau upaya memberikan kepada olahragawan manapun

Rencana Piala Ferry Raturandang di Singaraja Bali

18 September 2008. Keinginan berbuat sesuatu untuk Tenis di kota Singaraja makin hari makin besar. Mulai dari rencana coaching clinic maupun Mini Tenis sampai Turnamen baik itu TDP ataupun Persami.
Akhirnya muncul pemikiran , dimulai saja dengan Persami (pertandingan sabtu minggu). Apakah itu Persami, suatu pertanyaan bagi yang belum mengenalnya. Persami adalah turnamen yang bisa mengatasi kesulitan dana (sponsor) suatu turnamen tenis. Akibat minimnya turnamen maka peningkatan prestasi atlet tenis sangat sulit. Apalagi cukup dirasakan didaerah daerah terutama diluar Jawa.
Sebenarnya dana terbesar dalam suatu turnamen adalah HADIAH (piala), Balboys, wasit, sewa lapangan, panitia . Komponen ini yang dipangkas sehingga turnamen bisa berjalan. Disamping itu memudahkan atlet (mayoritas PELAJAR) tidak membolos sekolah, karena waktu yang digunakan adalah diluar jam sekolah, yaitu Sabtu setelah pukul 12.00 dan Minggu. Masalah lapangan agar tidak berat beban beaya maka diusahakan menggunakan lapangan yang tidak dipakai pelanggan lapangan tersebut. Atau jika memungkinkan beayanya tidak mahal (komersial).
Timbul pertanyaan, apakah mungkin tanpa gunakan wasit, ballboys. Mungkin saja dan sudah lama Piala Ferry Raturandang berjalan di jakarta, Bandung tanpa masalah. Awalnya saja yang mengeluh justru orangtua atau pelatih sendiri. Tetapi setelah menyadari tujuan Persami akhirnya bisa berjalan juga.

Setelah berbincang dengan pelatih Alfred Henry Raturandang, menyambut baik agar di Singaraja bisa bangkit dengan diadakan coaching clinic. Alfred mau turun ke Singaraja asalkan tuan rumah siap.

Akhirnya August Ferry Raturandang siapkan Persami memperebutkan Piala Ferry Raturandang dibulan Oktober 2008. Awalnya ditetapkan tanggal 11-12 Oktober 2008. Surat pemberitahua ke Pengurus Pelti Kabupaten Buleleng sudah dikirim. Dengan 5 lapangan yaitu lapangan Bhuana Patra ( 3 ) dan Undhiksa (2) yang berdekatan letaknya.

Setelah melihat kalender ternyata Hari Raya Idulfitri jatuhnya tanggal 1-2 Oktober 2008. Transportasi udara di Indonesia masih padat dengan arus mudik, sehingga ada kemungkinan harga tiket pesawat udara akan naik setinggi langit.
August Ferry Raturandang ingin merubah jadwalnya di Singaraja. Sudah dijadwalkan Piala Ferry Raturandang-56 tanggal 18-19 Oktober 2008 di Jakarta, berarti Persami Piala Ferry Raturandang-57 di Singaraja.

Persiapan lapangan masih menunggu konfirmasi pemilik lapangan yaitu Pelti Buleleng dan Undhiksa.

Majikan Tenang2, Kacungnya Bekoar Koar

18 September 2008. Disela sela rapat bidang pembinaan prestasi daerah PP Pelti, sempat juga diselingi dengan canda canda terutama hadirnya pelatih Bunge Nahor yang cukup dikenal gaya berbicaranya cukup kocak.
"Ini program cukup penting, gagal tidaknya program ini akan membawa nama Pelti kedepan." ujarnya cukup serius. Tapi dibenak masing masing tentunya akan bertanya tanya kemana arah pembicaraan Bunge selanjutnya.

Pelatih Bunge Nahor ini sekarang sudah mulai belajar menggunakan internet agar tidak ketinggalan teknologi kedepan. " Gua udah coba buka buka komputer mau baca email, tapi kagak bisa bisa awalnya. Ya suruh aja bini gue yang kerjain." ujarnya disambut ketawa rekan rekan yang hadir seperti Slamet Utomo, Tintus Arianto Wibowo, Hudani Fajri, Damrah dan August Ferry Raturandang.

"Ada apa Pak Santo dengan Januar?" tanya Bunge Nahor. Tidak lama kemudian telpon seluler August Ferry Raturandang berbunyi. " Telpon dari Santo." ujar AF Raturandang.
"Bilang sama Pak Santo, kenapa takut sama Januar. Hajar aja." canda Bunge sambil tertawa.

Langsung telpon diterima dan AF Raturandang sambil bercanda bilang sama Johannes Susanto kalau dicari sama Januar. " You dicari Januar " ujar August Ferry Raturandang sambil didengar rekan rekan yang duduk dalam ruangan rapat.
"Entar gua ke Senayan." ujar Santo.

Sejam kemudian Johannes Susanto datang ketemu August Ferry Raturandang. " Emangnya ada apa." . Oleh Raturandang disampaikan canda teman teman diruang rapat setelah mendengar Johannes Susanto yang dibentak bentak oleh Januar Mangintung pertelpon.

"Tenang tenang saja. Ini 'kan bulan suci Ramadhan. Kita tidak perlu ribut ribut sebagai umat beragama. Siapa yang ribut, hal yang biasa kalau majikannya tenang tenang tapi yang berkoar koar justru Kacungnya. Kalau kacungnya sudah tidak berkoar koar baru bisa jadi majikan. Ha ha ha ." ujarnya.

Rabu, 17 September 2008

Johannes Susanto Berantem Dengan Januar Mangintung

17 September 2008. Selasa sore ( 16/09) Johannes Susanto datang ketemu August Ferry Raturandang menceritakan kalau ada permintaan dari rekan Pelti Cilacap Widodo berkeinginan sebagai mediator antara PP Pelti dan pelaksana turnamen Bakrie (Tony Sangitan cs). Kesannya ada permasalahan antara kedua pihak. Dalam permintaan tersebut oleh Johannes Susanto sudah ditekankan kalau PP Pelti tidak mempunyai masalah dengan Tony Sangitan cs. " Untuk apa, PP Pelti tidak ada masalah." ujarnya. Karena selama ini PP Pelti selalu terbuka menerima semua pihak yang berkeinginan menyelenggarakan turnamen nasional. Bahkan Johannes Susanto sudah diperkenalkan kepada Tony Sangitan oleh August Ferry Raturandang di restoran Satay Senayan Kebayoran Baru. "Ya kan tidak ada masalah,Fer ." Tetapi menurut August Ferry Raturandang permintaan pihak Tony Sangitan ada yang aneh yaitu ingin pertemuan diikut sertakan Ketua Umum PP Pelti Martina Widjaja. Sebenarnya permasalahan hanya tentang pelanggaran ketentuan TDP Kelompok yunior saja dan sudah di beritahu sebelum pelaksanaannya. Permasalahan seperti ini bisa diatasi oleh yang mempunyai wewenang yaitu Ketua Bidang Pertandingan Johannes Susanto yang termasuk Pengurus Harian PP Pelti.

Setelah itu Johannes Susanto cerita kalau selang beberapa jam kemudian terima telpon dari Januar Mangintung sebegai orang kepercayaan Bakrie Olahraga . Dikatakan Januar sudah menerima SK Ketua Umum PP Pelti tentang pencabutan TDP Bakrie Tegal Open 2008. Dikatakan pula kalau mereka tidak bisa menerima apa yang telah dilakukan PP Pelti.
Sebenarnya yang dikenakan itu bukan sponsornya, tetapi pelaksana TDP (Panpel)tersebut yang diangkat oleh Pengkot Pelti Tegal dan Pemerintahan Kotamadya Tegal.

Setelah itu saking kesalnya Johannes katakan kalau banyak sekali omelan yang keluar dari Januar dalam percakapan telpon tersebut hanya tidak satu persatu diceritakan. Ada satu yang membuat Johannes Susanto kesal, saat mau menerangkan salah satu alasan yang dikemukakan Januar, ternyata Susanto dibentak oleh Januar untuk tidak memotong pembicaraannya karena belum selesai bicara. "Saya belum selesai bicara.Jangan dipotong," demikian kata Johannes menirukan ucapan dari Januar Mangintung.
Akhirnya terjadi perdebatan sengit antara keduanya. " Kamu siapa? Kok berani bentak bentak saya." ujar Johannes Susanto menceritakan kepada August Ferry Raturandang.

" Loe dikirain pegawainya ya ! Berani bentak bentak. Sompret juga tu orang. Memang orang itu tidak tahu diri. Siapa sih tidak kenal sama ulah orang pendek dari Palu itu." ujar August Ferry Raturandang yang ikut juga tersinggung atas perlakuan Januar Mangintung yang tidak menghormati Johannes Susanto yang lebih tua usianya dan juga sebagai Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti.

"Untung ditelpon, kalau ngomong didepan gua udah gua tonjok bajingan satu itu." ujar Johannes Susanto dengan tenangnya. " Masih jadi anak buah atau kacung sudah kurang ajar. Ini anak buah lebih galak dari majikan."

Kemudian Johannes katakan setelah itu telpon ke Widodo untuk membatalkan rencana pertemuan yang diminta Widodo sebagai mediator, karena ulah Januar maupun dianggap tidak perlu karena PP Pelti tidak ada masalah dengan Bakrie Group. Penyandang dana memahami tapi anak buah masih belum puas.

Anak muda ini mewakili nama besar Aburizal Bakrie kurang menyadari perilakunya yang justru merusak citra Aburizal dimata masyarakat tenis Indonesia. Dari awal sudah kelihatan perilaku kurang simpatik ditunjukkan oleh Januar Mangintung sebagai tim sukses Aburizal Bakrie, sewaktu mulai dari Musyawarah Nasional PELTI 2007 di Jambi. Ini yang membuat peserta Munas 2007 tidak senang dan akhirnya memutuskan memilih Martina Widjaja sebagai Ketua Umum PP Pelti 2007 - 2012.

" Emangnya anak spanggal mo ator orangtua. " itu SMS yang dikirimkan August Ferry Raturandang ke Albert Polohindang setelah selesai Munas 2007.

Bola Resmi ITF

17 September 2008. Sebagai pelaksana turnamen , dianggap perlu mengetahui bola resmi atau yang sudah diakui oleh badan tenis dunia (International Tennis Federation) atau PELTI. Kalau turnamen internasional diwajibkan menggunakan bola bola tenis yang sudah mendapatkan pengakuannya. Begitu juga turnamen nasional, diwajibkan menggunakan bola yang sudah diakui Pelti.

Untuk turnamen internasional, oleh ITF telah diedarkan bola resmi yaitu Aeroplane (China), Artengo, Babolat, Baxler, Boris Becker Pro, Beidgstone XTB, Cosco, Crane Sport, Diadora, Donnay, Dunlop, Fischer, Gamma, Head, Hema Drukloos, Iso-speed, ITF, K3, Kaiser, Nassau, Penn, Prince, Pro Kennex, Pro's Pro, Rex Professional, Rucanor Alto Pro, Shamp, Slazenger, Snauwaert, Sportastic Premium, Srixon, Star Ace, Tecnifibre, Tecno Pro, Teloon, Tens, Topspin, Tretorn, Tyger Force 1, Voit Premium, Volkl Pro, Welkin, Wilson, Yonex.

Dengan mengetahui bola yang diakui, maka lebih mudah selenggarakan turnamen internasional. Sebagai pelaksana jika menggunakan bola diluar nama nama diakui ITF maka turnamen tersebut oleh Referee, diminta ganti bola lainnya. Ini proteksi terakhir dari ITF dilapangan.

Sedangkan Pelti juga telah mempunyai official ball yaitu Dunlop. Wilson, Nassau, Tens, Penn, Fischer, Pro-Team, Boris Becker dan Indoball.

Selasa, 16 September 2008

Pembohongan Publik di TDP

16 September 2008. Pembohongan publik bukan hanya milik politikus karena bisa terjadi juga di tenis. Indikasi kesana mulai terlihat. Hal ini terungkap disaat acara pembukaan turnamen yunior Bakrie Masters 2008 di lapangan tenis Klub Rasuna Jakarta diakhir Agustus 2008. Kejadian ini diketahui oleh August Ferry Raturandang setelah membaca berita di www.indotennis.com.

Sebagai pelaksana Tony Sangitan menyampaikan kepada IndonesiaTennis, bahwa pemenang Bakrie Junior Masters ini akan memfasilitasi 8 peserta terbaik dari Kelompok Umur 12 dan 14 Putra/i untuk mengikuti turnamen " Milo" di Perlis Malaysia dalam waktu dekat ini, sementara pemenang KU lainnya akan diberikan bantuan biaya pembinaan yang besarnya belum diungkapkan. Ketika ditanyakan kenapa hanya KU 12 dan 14 yang dikirim, sementara penyelenggaraan turnamen Masters dilaksanakan untuk KU 10; 12; 14; 16 dan 18, Tony menjelaskan bahwa hanya untuk KU 12 dan 14 saja yang ada di turnamen tsb. Namun dari penelitian IndonesiaTennis, turnamen "Perlis Milo International Junior Tennis Championships" ternyata menggelar KU 18, 16, 14, 12, 10, 8 dan 7 tahun. Janji awal yang masuk Masters diberikan fasilitas untuk kelompok umur yang dipertandingkan sejak seri pertama. Dengan dalih di Malaysia tersebut hanya ada kelompok umur 12 tahun dan 14 tahun saja juga tidak benar. Ini namanya mengelabui peserta dengan info2 yang salah. Yang harus dipertanyakan kenapa sampai terjadi perbuatan tersebut.

Jika selenggarakan turnamen berseri dengan akhir turnamen dalam bentuk Masters maka hadiah kepada juarapun seharusnya sama disemua kelompok umur yang dipertandingkan di seri maupun Masters. Tidak ada pengecualian terhadap kelompok umur. Kalau kejadian seperti Bakrie Masters , pemberitahuan perubahan terjadi di Mastersnya maka tindakan ini tidak bijaksana dan memalukan nama turnamen Bakrie Masters. Akan muncul ketidak percayaan publik tenis terhadap pelaksana turnamen tersebut.

Membaca berita seperti ini August Ferry Raturandang menyayangkan sampai terjadi. Sebagai pembina tenis seharusnya menyadari kalau seharusnya sportip dalam janji dan realitanya. Kesalahan awal terjadi dalam melaksanakan turnamen tenis Bakrie Series dijanjikan iming iming hadiah kepada peserta, dengan tujuan agar mencari minat peserta. cara seperti ini kurang tepat sehingga keikut sertaan atlet disebabkan adanya iming iming tersebut. Sedangkan disatu sisi turnamen adalah kebutuhan atlet. Jikalau atlet yunior sudah diberikan iming iming hadiah maka motivasi ikut turnamen bukan lagi suatu kebutuhan untuk prestasi tetapi sebaliknya. Ini masalah serius sekali kalau tidak disadari. Ini menurut pengamatan August Ferry Raturandang pribadi.

Masalah ini disebabkan tidak transparan penyelengara turnamen kepada peserta. Awal permasalahan adalah pemberian hadiah dalam bentuk beaya ikut serta turnamen diluar negeri. Pemberitahuan telah dilakukan kepada peserta diawal kegiatan di Pemalang, Cilacap maupun Tegal, disebar luaskan rencana hadiah bagi peserta yang masuk Masters di Jakarta

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa bisa terjadi demikian ? Sewaktu seri pertama di Pemalang, Martina Widjaja Ketua Umum PP Pelti terkejut setelah membaca sendiri di Magelang saat Pembukaan TDP New Armada dalam leaflet turnamen Bakrie Pemalang Open tertulis diberikan hadiah uang Rp. 60 juta. Setiba di Jakarta Ketua Umum PP Pelti menelpon langsung Direktur Turnamen , menyampaikan kalau tidak diperkenankan TDP Yunior diberi hadiah UANG. Kemudian berkembang di Tegal, justru sudah diberitahu tetapi malahan menantang PP Pelti dengan tetap memberikan hadiah uang sebagai kompensasi transport. Ini juga suatu pelanggaran, tanpa konsultasi, tetapi menurut August Ferry Raturandang ada indikasi oknum Pelti ikut terlibat.

Teringat suatu saat di tahun 1996-1998 sewaktu masih menjabat Sport Manager Pusat Tenis Danamon Kemayoran. Diselenggarakan TDP Yunior. Oleh salah satu orangtua berasal dari Tegal mengeluh ke August Ferry Raturandang karena TDP tersebut tidak diberikan hadiah uang. Karena menurut pengakuannya semua TDP Yunior di Jawa saat diikutinya selalu berikan hadiah uang. Keluhan ini ditanggapi oleh August Ferry Raturandang dengan menanyakan , apakah membaca pemberitahuan TDP Yunior sebelum ikuti turnamen tersebut. Ternyata berita adanya TDP tersebut dari teman teman, bukan dalam bentuk publikasi secara tertulis. Sehingga oleh AF Raturandang katakan kalau penyelenggara tidak bisa disalahkan. " Silahkan saja minta hadiah uang ketemannya, karena Panpel tidak menyediakannya."

Kejadian Bakrie Masters terbalik. Sudah janjikan tetapi realisasinya tidak ada. Apakah hal ini bisa dikategorikan pembohongan publik ?

Senin, 15 September 2008

Ada Mimpi Ke Lombok untuk Tenis

15 September 2008. Setibanya di Jakarta dari kunjungan wisata ke Singaraja Bali dan sehari sebelumnya menyaksikan turnamen tenis Commonwealth Bank Tennis Classic di Hotel Grand Hyatt Nusa Dua, timbul keinginan meyelusuri kenangan lama sebagai mantan petenis daerah Nusa Tenggara Barat ke Lombok. Tempat kedua setelah mempunyai kenangan hangat dipertenisan Nusa Tenggara barat. Bertemu dan bercanda seperti yang telah dilakukan di Singaraja membawa kenangan tertentu.
Bisa dibayangkan kenangan manis karena prestasi sendiri bukan hanya kedua orangtua yang sudah almarhum.

Di Ampenan Nusa Tenggara barat, pernah mewakili Pekan Olahraga Nasional V tahun 1961 di Bandung bersama dengan Soegeng Widjaja ( almarhum Mayor Jenderal TNI AD) sebagai rekan dan saingan utama, dimana dalam setiap kesempatan ketemu di final dalam kejuaraan. Hanya status sebagai yunior sedangkan Soegeng Widjaja saat itu berpangkat Mayor TNI AD.

Disaat Pekan Olahraga Daerah (PORDA) Nua Tenggara Barat di kota Bima, Sumbawa, turun kekuatan daerah Lombok Barat dari keluarga Raturandang. Mulai dari Ny. Stien Marie Raturandang (sang Ibu), August ferry Raturandang (putra pertama) Alfred Henry Raturandang (putra kedua), Jane Anne Marie Raturandang (ketiga) dan Joan Ilona Octova Raturandang (keempat). Disampingi pula sepupu sendiri Djaloe Jatmo,dan Nyonya Petronela Wenas - Lintjewas, sehingga tenis diborong 6 medali emas oleh Lombok Barat.

Keinginan ini akan dipenuhi setelah berhasil dibuatnya Persami Ferry Raturandang Cup atau TDP lainnya di Singaraja. Begitu juga ada keinginan ada coaching clinic di Singaraja bisa terealiser. Hal ini sangat diperlukan karena materi atlet di Singaraja tidak kalah banyak dibandingkan Denpasar. Persaingan menghasilkan atlet handal antara Singaraja dan Denpasar sangat diperlukan sekali,
Dulu pernah dengar nama Al Imron, ada juga yang masih aktip di tingkat nasional adalah Ketut Nesa Artha, dari Singaraja kemudian Chandra Widhiarta mewakili Bali untuk PON XVII Kaltim

Hanya saja keinginan ini selalu dirongrong oleh oknum2 pengecut yang selalu melontarkan fitnah fitnah melalui website Pelti. "Siapa yang beayai AFR." kira kira begitulah pertanyaannya. Karena dianggap tidak mampu keluarkan uang dari kantong sendiri. Fitnah itu dikeluarkan dengan melempar isue terima uang Rp. 20 juta , yang tidak diketahui uang apa. Bagi AFR, yang penting punya niat dan soal dana kemudian bisa dikumpulkan.

Kenapa dikatakan pengecut, karena tidak berani keluarkan identitasnya. "Saya yakin kenal manusia pengecut ini. Biarkanlah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu." ujar August Ferry Raturandang yang tetap tegar apa kata orang yang menghina bahkan memfitnahnya.

" Kalau dia gila saya juga lebih gila, EGP aja lah. Gitu aja repot. " sambil tertawakan orang pengecut itu. Tetapi dilanjutkan ." Saya hanya bisa berdoa agar si Pengecut diampuni dan sadar apa yang telah diperbuatnya. AMIN. "

Ketemu Jago Tua dari Bali

14 September 2008. Kunjungan pertama ke Singaraja, September 2007 mendengar kalau salah satu rekan Jotje Albert Raturandang(alm) ada yang masih hidup, sehingga timbul keinginan untuk bertemu. Karena JA Raturandang semasa hidupnya di Singaraja Bali selain pegawai Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan saat itu ( 1949-1959) juga menyalurkan salah satu hobinya yaitu TENIS. Bisa sebagai pemain dan merangkap Pelatih.

Saat kunjungan kedua hari ini August Ferry Raturandang sempat ketemu rekan ayahnya yaitu JA Raturandang , Bapak I Wayan Wenten . Usia telah 82 tahun, tetapi jalan masih gagah dan yang cukup dikagumi adalah memorinya masih tetap kuat.
Saat bertemu langsung August Ferry Raturandang merangkul dan menciumnya karena masih kenal, padahal waktu itu usia masih 13 tahun saat terakhir meninggalkan Singaraja ikut orangtua ke Ampenan Lombok. Ada kebanggan melihat Pak Wenten berjalan cukup tegak seperti dulu kala. Bangga dan haru bisa berjumpa dikota yang sudah lama ditinggalkan yaitu tahun 1959.

Pertanyaan pertama meluncur dari mulutnya adalah "apakabar Papi dan Mami." Karena belum tahu kalau kedua orangtua August Ferry Raturandang sudah lama dipanggil Tuhan.

"Saya dulunya pemain sepak bola di Praya (Lombok Tengah) kemudian main tenis. Yang ajarkan saya tenis adalah Pak Raturandang. Lucunya dibulan pertama disuruhnya nonton tenis saja. Kemudian diberikannya buku tenis dalam bahasa Inggris. (yang dimaksud buku dari Donald Budge, petenis AS). Karena tidak mengerti maka saya baca foto fotonya saja." ujarnya disambut ketawa yang mendengarkannya.

Masih diingatnya pula beberapa jago jago tenis saat itu. " Dulu ada persaingan antara Singaraja dan Denpasar. Pak Ngurah dan Nyoo Hway Jong dari Denpasar bersama Pak Kairupan (Frans Kairupan), Singaraja ada saya dan Pak Raturandang. Sebenarnya Pak Ngurah asalnya dari Singaraja kemudian pindah kerja ke Denpasar. Saya muridnya Pak Raturandang tapi saya juga yang bisa kalahkan Pak Raturandang. Pernah saya kalahkan Pak Raturandang dengan raket jelek. Langsung oleh Pak Raturandang sambil marah katakan kenapa bisa kalah dengan raket jelek. Kemudian dibelikannya saya raket baru." ceritanya.

"Kalau dulu siapa jadi pelatih mereka? " pertanyaan datang dari Chandra Widhiarta, langsung oleh AF Raturandang dijawab dulu JA Raturandang belajar dari buku buku tenis dan dilakukan tennis shadow didepan kaca, dan dipraktekkan dilapangan tenis. Itu yang pernah almarhum ayah ceritakan."

Oleh AF Raturandang disampaikan rekan rekan yang disebut itu telah meninggal dunia adalah Ngurah, Nyoo Hway Jong. Sedangkan Frans Kairupan masih ada di Jakarta.

Diceritakannya pula dimana JA Raturandang bertanding mixed doubles dengan Stien Marie Raturandang-Montolalu. " Tidak tahu siapa yang salah, tahu tahu keduanya sudah ribut. Mungkin istrinya pukul salah, suami marah2. Ini sudah biasa." ujarnya mengenang almarhum JA Raturandang.

Banyak yang diungkapkan oleh Pak Wenten, nama nama saat itu dikenangnya hanya sayang August Ferry Raturandang lupa nama nama tersebut.

"Gimana kita ya, seusia 82 tahun daya ingatannya masih kuat." ujar Akun (Gunadi Winata) yang sangat mengagumi kekuatan Pak Wenten ini. "Apakah kita bisa seperti beliau.?" ujarnya ke August Ferry Raturandang.

Kemudian tak henti hentinya Pak Wenten menceritakan keluarga JA Raturandang. " Pak Raturandang punya 2 putra dan 2 putri." ujarnya dengan semangat. Ditanyakan pula ketiga adik2 tersebut yaitu Alfred Henry Raturandang, Jane Marie Raturandang ( Ny. Eykendorp) da Joan Ilona Octova Raturandang (Ny. Henuhili). Oleh AF Raturandang disampaikan kalau salah satu cucu dari pak Raturandang ada yang berhasil jadi petenis nomer satu Indonesia yaitu Andrean Raturandang putra dari Alfred Henry Raturandang.

"Masih ingatkah Pak Wenten nama panggilan adik saya Alfred waktu itu." pertanyaan dari AF Raturandang. Karena sudah lupa, dan disebutkanlah namanya waktu kecil dipanggil Ongek. Sekarang kalau ada yang panggil atau sebut nama tersebut, Alfred bilang pasti teman lama di Bali atau Lombok.

Kedatangan pertama kali ke Singaraja tahun 2007 sempat ketelinga Pak Wenten , kalau putranya Raturandang mencarinya sehingga kedatangan kedua kalinya baru bisa disyukuri bertemu. Keinginan besar datang juga dari yang lebih muda.
Kembali ke Jakarta dengan hati senang karena berhasil bertemu dengan rekan tenis dari orangtua sendiri yang sudah almarhum.

"Nanti saya cerita sama adik adik saya seperti Alfred, Jane dan Joan." janji AF Raturandang setelah berfoto bersama dengan I Wayan Wenten.

Kenapa TDP Agung Cup Tak Berlanjut ?

14 September 2008. Banyak laporan yang masuk sebagai koreksi terhadap kepengurusan Pelti ditingkat Pusat. Salah satunya datang dari pelatih Singaraja yang sering membawa atlet yunior Singaraja ikuti Turnamen nasional di pulau Jawa. Namanya Gunadi Winata dengan panggilan Akun. Dia ini seorang pengusaha restoran di Singaraja berusia sekitar 56 tahun berkacamata dan banyak ceritanya dan terkenal sangat sosial terhadap petenis yunior di Singaraja.

"Mau tahu kenapa turnamen di Blitar itu tidak berlanjut. Awalnya turnamen senior yang sukses karena banyak petenis nasional hadir kemudian terakhir menjadi turnamen yunior." pertanyaan ini ditujukan kepada August Ferry Raturandang. Memang tahun 2008 terhenti pelaksanaannya sedangkan terakhir kalinya adalah tahun 2007. Sebenarnya August Ferry Raturandang sudah mendengar selentingan tidak berlanjutnya turnamen di Blitar dengan nama Agung Cup.

"Ibu itu, pernah cerita kalau ditekan oleh Pusat." ujarnya tanpa menyebutkan nama sumbernya. Kata ditekan menarik perhatian August Ferry Raturandang, apa maksudnya, dan dimana letak kesalahan yang muncul. Kira kira yang dimaksudnya sehingga lebih jelas permasalahannya. Dikatakan pula selama ini petugasnya mulai dari yang menyusun order of play (Referee maksudnya) sampai tournament desk dan wasit dari Jakarta.

August Ferry Raturandang katakan senang adanya masukan seperti ini, karena yang di Jakarta tidak mungkin harus mendatangi seluruh turnamen didaerah.
Kemudian dijelaskan setelah beberapa kali selenggarakan Agung Cup kelompok umum dengan memberikan hadiah prize money, PB Pelti saat itu belum menagih sanction fee seperti yang tercantum dalam Ketentuan Turnamen Diakui Pelti." Kami meminta setelah berjalan beberapa tahun. Dan minta fee tersebut pada turnamen terakhir saja. Saat ditanyakan ke penyelenggara, baru mereka terkejut dan merasa bukan dibantu tetapi malahan minta dibayar sanction fee. Ini sudah ada ketentuannya saat itu hanya 10 % dari prize money. Dan sudah lazim didunia pertenisan. Kami baru tagih setelah beberapa kali selenggarakan."

Oleh August Ferry Raturandang katakan kalau dalam ketentuan hanya tenaga Referee saja yang harus ditunjuk oleh PB atau PP Pelti. Sedangkan wasit, tenaga tournament desk tidak perlu dari Jakarta. "Saya tidak perlu sebutkan nama petugas dari Jakarta. Bisa dilihat dalam laporan mereka." Walaupun tidak melihat laporan Panpel, August Ferry Raturandang sudah mengerti maksudnya dan siapa pelaku pelakunya tersebut diatas yang mayoritas berasal dari luar Blitar yaitu dari Jakarta. Yang jadi masalah kota Blitar tidak punya wasit. "Siapa yang memaksakan seperti itu. Ini yang akan kami selidiki. Tidak usah kuatir sekarang diijinkan turnamen yunior tanpa wasit. Nanti dibabak kuarter final baru gunakan wasit. Enteng 'kan. Lain kali jika berkonsultasi dengan PP Pelti langsung kepengurusnya. "

Oleh AF Raturandang ceritakan sekarang ada tenaga full time yang keliling diturnamen tenis di pulau Jawa menawarkan diri sebagai petugas tournament desk maupun wasit, karena profesinya demikian. "Ini sih wajar wajar saja, dan bisa ditolak kalau mau dan sudah punya pilihan. tapi yang jelas bukan PP Pelti yang memaksakan. PP Pelti hanya menunjuk tenaga Referee saja. Kalau ada yang memakai nama PP Pelti segera beritahu. " Sinyalemen seperti ini sudah lama terjadi dan dijanjikan dimasa mendatang PP Pelti akan memperbaiki TDP-TDP yang ada.

Selanjutnya AF Raturandang katakan , banyak keluhan yang masuk mengatakan sudah berkonsultasi dengan PB atau PP Pelti. Ternyata berhubungan bukan orang yang tepat. " Yang terima telpon adalah resepsionis, atau orang yang tidak berhak menjelaskan tentang aturan seperti ini. Seharusnya diteruskan kepada yang bertanggung jawab soal turnamen kalau untuk turnamen. Banyak sekali yang tidak bisa sebutkan nama petugas di PP Pelti.Bisa juga terjadi justru tamu PP Pelti yang sering nongkrong cari ordran istilahnya, yang mengangkat telpon tersebut. Entah apa maksudnya. Ini juga akan ditertibkan. "

Oleh Raturandang diceritakan pernah kejadian ada mantan wasit yang telah beralih profesi menjadi tournament desk di turnamen2 , sedang bertamu dikantor Pelti. Kemudian datang tamu dari instansi yang berkunjung menanyakan soal peraturan turnamen. " Langsung disambarnya, karena dianggap marketnya. Kebetulan saya mendengar langsung apa yang dijelaskannya itu salah. Langsung saya marahin dan saya usir dari kantor Pelti." Hal seperti ini rupanya sering terjadi tanpa sepengetahuan pengurus Pelti sendiri.

Saat ini kantor PP Pelti sudah direnovasi, dan sedang ditertibkan petugas petugasnya dan tamu yang masuk kekantor. Bukan berarti menolak tamu, hanya karena sering kejadian bertamu tetapi tamunya bermain games di komputer PP Pelti. Sedangkan penaggung jawab kantor Sekretaris Eksekutif PP Pelti diam saja.
Banyak PR yang harus diperhatikan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat tenis di Indonesia. Semoga masalah pelayanan ini mendapatkan perhatian dimasa mendatang.

'Jangan segan segan ajukan permintaan ke PP Pelti"

14 September 2008. "Jangan segan segan ajukan permintaan ke Pengurus Pusat Pelti." Ini anjuran August Ferry Raturandang kepada rekan rekan Pengkab Pelti Buleleng di Singaraja. Dalam kunjungan tidak resmi ke Singaraja selain bernostalgia, August Ferry Raturandang berkeinginan agar di Singaraja ada kegiatan kegiatan yang bisa memajukan tenis di Kabupaten Buleleng. Ini misinya yang kedua kalinya ke Singaraja yaitu "APA YANG BISA DIBERIKAN KEPADA BULELENG?" Kira kira itu dalam benak August Ferry Raturandang yang pernah mengikuti orangtuanya bermukim di Singaraja dari tahun 1949-1959. Kedatangan pertama dalam rangka menjalankan misinya ini telah dilakukan pada bulan September 2007.

"Saya belajar tenis di Singaraja. Bukan di Manado, tetapi membela daerah Nusa Tenggara Barat di Pekan Olahraga Nasional V tahun 1961 di Bandung." Karena itu Singaraja sudah waktunya juga bangkit karena pernah menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Daerah Bali beberpa tahun silam. Saat ini sudah tersedia fasilitas lapangan tenis berupa 3 lapangan KONI Kab.Buleleng, dan 2 di Dinas Pendidikan, 2 lapangan Yudhistira (tempat pertama kali main tenis) hanya kondisi saat ini kalah dengan lapangan KONI Kab.Buleleng. Tetapi ada juga 2 lapangan dilapangan Bhayangkara milik Polisi didaerah Kaliuntu.

Dalam pembicaraan dengan Lanang Parwata , Dharmawan yang keduanya adalah Wakil Ketua Pengkab Pelti Buleleng didampingi oleh Chandra Widhiarta salah satu petenis anggota Kontingen Bali di PON XVII 2008 Kaltim di Balikpapan, Danu Budiartha dan pelatih Akun, August Ferry Raturandang menawarkan bantuan apa yang bisa dilakukan di Singaraja. "Coba buat program latihan atau coaching clinic dengan pelatih nasional. nanti PP Pelti memfasilitasinya. Buat surat langsung ke PP Pelti tetapi jangan lupa buat tembusan ke PengProv Pelti Bali."

"Saya ingin sekali agar PP Pelti membantu gimana caranya kita bisa kumpulkan atlet yunior di Singaraja ini. Karena banyak sekali yang menyampaikan cerita cerita yang tidak membangun. Begitu kalah, ada saja orangtua yang katakan berhenti saja main tenis, dll." ujar Akun pelatih yang banyak ceritanya , yang juga seorang pengusaha restoran di Singaraja.

Kalau yang dimaksudkan adalah turnamen, maka tiba saatnya selenggarakan turnamen PERSAMI. Oleh AF Raturandang ditawarkan turnamen Bintang Seri yang hanya 3 hari, bisa mulai Jumat dan selesai Minggu. Bantuan dari Jakarta dari Bintang Seri ini berupa bola, piala dll. Sayang sekali tidak ada Ketua Pengkab Pelti Buleleng yang sedang ke Denpasar.

"Kalau saya mau selenggarakan turnamen Persami di Singaraja, cukup 5 lapangan saja yang ada, nanti dipertandingkan kelompok umur 10 tahun, 12 tahun dan 14 tahun. Terserah yang mana banyak atlet di Singaraja, 10 tahun atau 12 tahun." Disampaikan kalau KU 10 dan 12 tahun cukup banyak. " Nanti saya sediakan hadiah berupa piala, sertifikat dan bola."

Oleh Chandra Widhiarta katakan kalau tidak boleh berikan hadiah uang atau prize money kepada turnamen yunior sesuai aturan tenis sendiri baik ITF maupun Pelti.

"Berikan minimal 40 atlet, saya berani terbang ke Singaraja dengan ongkos sendiri." ujar AF Raturandang kepada rekan rekan di Singaraja. Begitu dapat jawaban jumlah atlet yang dimaksud terpenuhi, AF Raturandang langsung sudah memikirkan dibulan Oktober 2008 selenggarakan Persami memperebutkan Piala Ferry Raturandang-56 di Singaraja, setelah berkomunikasi dengan Ketua PengKab Pelti Buleleng.

Kunjungan ke Singaraja

14 September 2008. Udara cerah tetapi panas , hari ini August Ferry Raturandang menyetir kendaraan kearah Singaraja, Bali untuk bertemu dan melihat keadan kota tempat pertama kali mengenal olahraga tenis.
Dari Kuta kearah Nusa Dua singgah sebentar untuk mengantar tiket Commonwealth Bank Tennis Classics diberikan kepada rekan lainnya karena kuatir hari ini tidak sempat kembali tepat waktu dari Singaraja.
Mengambil jalan by pass ke arah Sanur menuju Gianyar, sempat bingung setelah mencari jalan kearah Gianjar karena untuk pertama kali dijalan baru ini. Sehingga terpaksa bertanya kepada seseorang dipinggir jalan. "Malu bertanya sesat dijalan."
Ternyata salah berikan arah jalan dan baru sadar kalau mendengar dialeknya berasal dari Madura. Ini pendatang juga tapi kerja di Denpasar. Setelah itu bertanya ke seorang lainnya maka didapatkan jawaban yang benar. Ini jalan cukup mulus kearah Bali Timur sangat menggiurkan melarikan mobil dengan kecepatan tinggi yang merupakan kesenangan tersendiri dibandigkan dengan naik pesawat terbang.
Pemandangan cukup elok dipandang mata apalagi sudah menggunakan kacamata plus. Jalan jalan cukup mulus sehingga memungkinkan menenangkan pikiran dengan melarikan mobil . Walaupun sedikit ngantuk, membawa kendaraan harus kencang agar mata tetap terbuka atau melek.

Sepanjang jalan, suasana Bali sangat terasa tidak seperti daerah daerah lainnya yang hampir sama, karena hampir sepanjang jalan melihat orang Bali dengan pakaian adatnya menuju ketempat upacara di Pura tempat sembahyang umat Hindhu Bali. Sepanjang jalan ada Pura yang jumlahnya cukup banyak. Ini ciri khas Bali.

Dari Denpasar masuk ke Sukowati dan Ubud yang termasuk dalam kabupaten Gianyar, yang sangat terkenal dengan tempat seni di Bali. Terlihat papan Museum BLANCO, salah seorang pelukis asal Italia yang akhirnya menikah dengan putri Bali. Telah meninggalkan seorang putri yang cantik (lupa namanya) dan seorang putra yang ganteng(lupa namanya).
Berbagai macam kerajinan (wood craft) terlihat disepanjang jalan. Masuk ke Desa Seni, Peliatan tetap terlihat janur kuning tetapi kali ini sudah kelihatan lunturnya warna kuning karena sudah lama dijalan jalan tersebut. Nama Desa Seni rupanya tempat seni juga. Setelah itu masuk ke Desa Sanding dan Tampaksiring. Sepanjang jalan tampak hijau dengan sawah disela sela bangunan rumah . Kehijauan ini cukup menyejukkan mata memandang.

Siapapun mengenal Tampaksiring karena disinilah terdapat Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Memasuki Tampaksiring masih terlihat sawah sawah yang hijau membentang. Akhirnya bertemu perempatan jalan , yang lurus ke Istana Presiden Tampaksiring dan dipilihlah kekanan kearah Kintamani. Tidak berapa jauh dari tikungan didapatkan tempat wisata yaitu Tirta Empul yang hari ini banyak kelihatan mobil2 parkir. Tempat pemandian ini terletak dibawah dari Istana Tampaksiring. Konon kabarnya Presiden Indonesia kala itu , Soekarno membangun istana ini agar bisa melihat kebawah kekolam renang Tirta Empul.

Setelah itu didapatkannya Goa Gajah, tempat wisata yang letaknya dikanan jalan, masih sepi dari pengunjung. Dulu sewaktu kecil sudah pernah melihat GOA GAJAH yang isinya banyak patung2. Perjalanan terus dengan melaju kearah Kayabongkah dan akhirnya memasuki Kintamani. Pagi ini udara cukup terik, jam menunjukkan pukul 09.00 sehingga udara dingin Kintamani tidak terasa kecuali diembus oleh angin. Berhenti turun melihat lihat indahnya pemandangan Gunung batur dengan Danaunya, dan istrahat mencari toilet umum . Masuk harus bayar Rp. 2.000,- Dibandingkan tempat lain biasanya hanya Rp. 1.000. Tetapi sepanjang jalan besar ini masih belum terlihat pengunjung, yang banyak justru penjaja sovenir.

Karena mendengar ada desa dibawah jalan Kintamani, dan jalan turun kebawah terdapat desa yang terkenal dengan mayatnya tidak dibalsem dan tetap tidak berbau. Lupa nama tempat ini . Akhirnya penasaran belum pernah turun kebawah, maka kendaraan disetirnya kebawah yang ternyata makan waktu 30 menit perjalanan sampai ke Pura Hulundanu Batur. Sepanjang jalan kebawah ini banyak truk truk membawa pasir atau batu batuan dari Gunung Batur. Kalau dari atas terlihat warna hitam dilereng Gunung batur, bekas lahar dari Gunung Batur yang saat ini sudah lama tidak aktip. Truk berjalan agak perlahan karena jalan cukup banyak tanjakan. Mobil yang lewat bisa dihitung tidak lebih dari kedua belah tangan ini. tetapi kendaraan truk ini bisa melebih 15 buah. Yang menjadi pertanyaan , karena ini tanah atau pasir dan batu batuan milik negara, apakah sudah mendapatkan ijin atau telah membayar kepada kas negara. Pasirnya warna hitam bukan seperti pasir pantai yang saat ini sedang heboh di Bali karena digali dan disedot pakai mesin , sehingga pasir laut bisa dikeruk. Hal ini terjadi di Pantai Geger, Badung dan juga wilayah Pantai Jumpai dan di Nusa Penida yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Walaupun sebagaimana sudah diatur dalam Undang Undang Lingkungan Hidup Bomor 23 tahun 2003 yang melarang pengambilan pasir laut. " Yah EGP aja lah."

Melihat kiri kanan penuh dengan batu batuan, cukup indah juga karena belum ada daerah lain seperti ini dan tidak ada perumahan sekitar batu batuan tersebut, hanya didapatkan beberapa rumah dipinggir danau dan tambak ikannya. Dipinggir batu batuan ada yang sedang menanam bawang, tomat ditengah pasir atau batu batuan tersebut. "Kok bisa tumbuh tanaman dengan tanah pasir ini". Mereka lebih ahli masalah ini karena terlihat juga hasilnya sudah banyak yang berbuah seperti tomat.

Tidak turun di Pura Hulundanu Batur karena sudah buntu jalannya, tetapi hanya berputar kendaraan kearah balik keatas. Sepanjang jalan bertemu truk truk tersebut sehingga harus berhenti dulu agar bisa lewat.

Setiba diatas memakan waktu keseluruhan 1 jam , perjalanan dilanjutkan kearah Singaraja dengan pemandangan cukup menarik dikanan jalan karena terlihat betapa eloknya pemandangan Gunung Batur dengan Danau Baturnya. Pemandangan seperti ini jarang bisa dilihat didaerah lainnya. Tidak mau melewatkan keindahan pemandangan, berhentilah sejenak untuk mengabadikan pemandangan tersebut. Setelah perjalanan dilanjutkan meninggalkan Kintamani yang juga dikenal dengan anjing khas Kintamani, tidak lama kemudian memasuki Obyek Wisata Desa Penulisan. Ditikungan terlihat ada Pura yang sedang dikunjungi umat Hindhu Bali untuk bersembahyang. Perjalanan terus memasuki desa Pantang, yang jalannya mulai menanjak dan berliku liku. Setelah itu masuk ke Desa Dausa, Desa Satera. Ada pemandangan lain yaitu terlihat banyaknya pohon cengkeh dengan aromanya yang khas seperti di Minahasa Sulawesi Utara. Dijalan jalan dijemur cengkeh diterik matahari. Memang untuk mengeringkan cengkeh cukup digelar dipinggir jalan supaya cepat kering. Sejauh jauhnya mata memandang terlihat pohon pohon cengkeh warna hijau. Teringat akan Minahasa didaerah Leilem - Sonder, jalan jalan ini mirip karena sepanjang jalan rakyat menjemur cengkeh dipinggir jalan.
Selama perjalanan jarang menemui kendaraan roda empat, tetapi lebih banyak kendaraan roda dua.
Banyak desa yang dilewati sehingga lupa mengingatkannya. Setelah itu jalan mulai menurun dan sudah mendekati kota Singaraja. Terlihat mulai pohon pohon kelapa berarti sudah dekat Kota Kubutambahan. Tetapi perjalanan masih sekitar 15 km lagi. Melewati desa Sangsit dan akhirnya masuk ke Kampung Tinggi Singaraja tepat pukul 12.30. Menuju lapangan tenis KONI Kab.Buleleng melalui depan Sekolah Dasar No. 12 yang dulu tempat sekolah August Ferry Raturandang di Singaraja. Hanya dulu namanya Sekolah Rakyat. Berhenti sejenak untuk mengabadikan berfoto didepannya. Kalau dulu kalau ( terakhir th 1959), pagarnya tidak demikian. Saat ini dipugar dengan arsitektur Bali yang khas ini. Ini mengingatkan teman teman lama semasa disekolah tersebut seperti dr. Pandu Setiawan DSJ (mantan petinggi Depkes RI), Kol (L)Purn. Robert Senduk, Hendriek Pangemanan (ada di Jakarta).

Dalam perjalanan dari Denpasar ke Singaraja ini berpapasan mobil lebih sedikit dibandingkan kendaraan roda dua. Yang mengalir seperti air saja. Sebelum memasuki Kintamani banyak ditemui pengendara motor tanpa menggunakan helm, berbeda dengan kota Denpasar selama ini sangat taat akan penggunaan helm. Tidak ada satupun pengendara motor di Denpasar tanpa helm.

Dari perjalanan ini hampir sama dengan di Minahasa Sulawesi Utara bangunan didesa desa menggunakan atap seng. Perbedaannya kalau di Bali dinding rumah dari batu bata, sedangkan di Minahasa mayoritas dengan papan alias rumah panggung.

Menuju ke lapangan tenis KONI Kab.Buleleng, ketemu dengan Chandra Widhiarta. Dilapangan sedang latihan petenis yunior Elvi ( 14 tahun) dengan pelatihnya Gede. "Siapa nama pelatihnya itu?" tanya August Ferry Raturandang kepada Chandra Widhiarta. Dijawabnya kalau itu pelatih kampung , untuk merendah.
Memang banyak pelatih seperti ini dimana saja. Ternyata Jotje Albert Raturandang(alm) juga pelatih kampung karena tidak ada sertifikat nasional maupun internasional. Tetapi bisa juga menghasilkan petenis sesuai dengan kelasnya.
Dan setelah itu sambil ngobrol bersama sama rekan rekan dari Pelti Buleleng, Lanang Parwata (wakil Ketua), Dharmawan yang juga wakil ketua dan anggota pengurus lainnya Danu Budiartha. Tampak pula salah satu pelatih Singaraja yang terkenal sangat sosial Akun yang senang bercerita banyak. Dan banyak masukan yang didapatnya.

Tidak lama kemudian datanglah salah satu rekan dari Jotje Albert Raturandang (ayah dari August Ferry Raturandang), Bapak I Wayan Wenten. Langsung August Ferry Raturandang menyambutnya karena ini salah satu teman ayah sendiri yang juga masih mempunyai daya ingatan cukup kuat walaupun usia sudah 82 tahun. Sambil memeluk, pertanyaan pertama adalah " Bagaimana kabar papi dan mami."
Langsung dijawab kalau sudah dipanggil Tuhan. "Papi usia 72 tahun dan Mami usia 86 tahun sewaktu meninggal." ujar AF Raturandang.

Setelah puas berbincang bincang , akhirnya tiba waktu menjelang sore pukul 15.30. Dan August Ferry Raturandang kembali ke Denpasar dengan route yang sama melalui Kintamani. Tiba di Denpasar pukul 19.00 setelah istrahat makan sate kambing dan gulenya di Sukowati. Selama perjalanan, masih ada keyakinan kalau bisa laksanakan turnamen tenis ataupun kegiatan tenis lainnya di Singaraja. Sehingga direncanakan minimal setahun sekali berkunjung ke Singaraja.

Puas dengan kunjungan ke Singaraja, tetapi masih belum puas jika belum ada kegiatan khususnya turnamen tenis di Singaraja. "Ini obsesi saya di Singaraja. Saya akan kembali dengan turnamen."

Minggu, 14 September 2008

Penonton yang sok tahu

13 September 2008. Menonton pertandingan tenis dengan penuh aturan tidak semua orang bisa mengertinya. Nasib apes dialami August Ferry Raturandang sewaktu menonton semifinal Commonwealth Bank Tennis Classic di Nusa Dua Bali, tidak bisa menimati sepenuhnya. Kebetulan duduk disamping dua lelaki muda yang setiap permainan selalu keluarkan komentar. Bahkan memprediksi kemenangan berikutnya.
Yang lebih pendek bertanya keteman tentang ada tidaknya komentator tenis. "Wah kalau tidak ada, sayang ya." ujarnya dengan dialek seperti orang dari Indonesia Timur.

Sewaktu Daniela Hantuckova bertanding dalam keadaan kalah diset pertama, si pendek berkomentar setiap pukulannya dengan menganjurkan pukul ketengah saja. "Kenapa musti kekiri kekanan, buktinya keluar." ujarnya . Temannya membantah kalau lebih baik beri kekiri dan kekanan supaya lawannya berleri lari terus. Tapi yang pendek tetap ngotot dan suaranya bisa didengar oleh penonton didepannya , belakang dan samping. " Hus diam saja." ujar penonton dibelakang.
Saat set kedua Daniela unggul 5-4, keduanya keluar dan tidak kembali, membuat penonton didepan dan belakangnya bertanya tanya siapakah mereka dan mensyukuri sudah tidak ada yang akan mengganggu seperti mereka ini.

Penonton babak semifinal ini agak lumayan dan sepertiganya orang asing memenuhi tempat duduk penonton, jika dibandingkan sebelumnya. Melihat penyelenggaraan WTA-Tour tournament ini sejak bernama Wismilak International, menurut AF Raturandang kali ini sedikit berbeda sejak berganti sponsor utama menjadi Commonwealth Bank Tennis Classic. Jumlah penonton terbanyak disaat Angelique Widjaja keluar sebagai juara. Harus diakui jika ada petenis tuan rumah yang bisa masuk final maka penontonpun akan berduyung duyun dari Bali, Jawa Timur ( Banyuwangi,Jember, Malang, Surabaya) datang melihatnya. Bahkan banyak juga penonton spesial dari Jakarta.

Tenis memang merupakan cabang olahraga yang didalam pertandingan banyak aturannya, sehingga tidak leluasa memberikan dukungan kecuali bola mati. Ya, namanya emosi menonton selalu terbawa sehingga kadang kadang saking kagum sehingga dalam bola bola rally penontonpun mengeluarkan suaranya yang tidak bisa dibendung.

Disela sela pertandingan , August Ferry Raturandang bertemu dengan Frank Moniaga salah satu rekan tenis di Maesa. Begitu pula Hengky dari Jakarta.
Karena menggunakan topi sehingga Frank Moniaga tidak mengenal August Ferry Raturandang. Saat itu Frank sedang diolayani oleh Noor Iman di stand Volkle. " Ini bola Boris becker harganya berapa.? karena Frank belum mengenal bola ini. Langsung August Ferry raturandang iseng menyahut pertanyaan tersebut. " Ya, seribu tiga, tapi ambilnya di Amurang."
Frank terkejut juga dengar , dan begitu tahu kalau yang bicara August Ferry Raturandang langsung tertawa, karena sudah lama tidak ketemu.
Sewaktu melewati stand Volkle, terdengar suara Johannes Susanto Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti memanggil nama AFR dengan " Ferry Raturanjang".
"Sorry, tidak lihat, abis silau mata ini. Pakai topi dong ! ."

Jumat, 12 September 2008

Mau Duit Bisa Dapat Prestasi

12 September 2008. Andaikan induk organisasi tenis di Indonesia mulai menertibkan turnamen nasional terutama kelompok yunior, maka sebenarnya para orangtua yang awalnya bertujuan mencari duit di turnamen yunior jangan kecewa karena itu wewenang induk organisasi menegakkan aturan yang sudah lama baku.
Dimaklumilah semua pihak kalau tugas dan kewajiban orangtua untuk menyiapkan dana untuk pembinaan putra dan putrinya sehingga bisa maju demi masa depannya.

Kelihataannya induk organisasi tidak main main karena mau serius membina atletnya melalui turnamen yang benar. Terlihat jelas dampak negatip yang tidak disadari oleh masyarakat dari turnamen yunior yang berikan hadiah uang kepada pemenangnya.
Sepengetahuan August Ferry Raturandang, akibat langsung yang pernah terjadi para orangtua berlomba lomba menurunkan usia putra/inya. Khususnya dikelompok 10 tahun dan 12 tahun banyak sekali kasus curi umur. Penemuan August Ferry Raturandang selama tahun 2007, mayoritas orangtua petenis dari Jawa Tengah yang memalsukan umur.

Nah, ada cara yang positip kalau mau DUIT maka dapat PRESTASI. Aneh ya, kalau tidak melihat adanya kemungkinan ini. Karena sudah ada yang melihatnya.
Caranya , yaitu petenis yunior bisa ikuti turnamen nasional kelompok umum dimana tersedia prize money.
Jika bisa ikut masuk babak utama, so pasti dapat duit. Tetapi persyaratannya harus sudah berusia 14 tahun baru bisa ikuti TDP Nasional ini.
Nah dimana kaitannya dengan PRESTASI.
Secara tidak disadari kalau bisa ikuti TDP ini maka lawan lawannya pasti yang lebih tua usianya, sehingga tingkat permainannya sudah bisa juga ditingkatkan. Latihan atau bertanding melawan petenis yang kelasnya lebih tinggi secara tidak langsung akan mengangkat prestasi maupun permainan petenis yunior.
Nah dapat duit dapat prestasi , makin tinggi prestasinya maka makin banyak duit didapat.

Jangan pikir tidak ada atlet tenis remaja (usia masih 14 tahun) sudah bisa berprestasi dikelompok seniornya. Ini karena motivasi atlet didukung orangtuanya yang lebih mementingkan prestasi daripada pikirkan dapat uang dari turnamen yunior. Lihatlah prestasi petenis Grace Sari Ysidora, saat ini bisa masuk 5 besar PNP kelompok umum. Grace sudah ikuti turnamen senior yang memperebutkan prize money. Nah, silahkan coba. Mumpung belum ada aturan yang melarang petenis yunior mendapatkan prize money jika ikuti turnamen senior.

Kamis, 11 September 2008

Klub Sparta MAESA Mulai Bangkit

11 September 2008. Hari ini tepat 7 tahun peristiwa bersejarah yang sangat memilkukan umat manusia sejagat. Karena tepat 7 tahun silam telah terjadi peristiwa di New York, tepatnya gedung World Trade Center dihantam 2 pesawat terbang teroris.

Tapi malam ini di lapangan tenis Apartemn Casablanca klub tenis Sparta Maesa mulai bangkit kembali setelah beberapa bulan dicanangkan saat berkumpul bercanda dan bermain tenis kembali oleh rekan rekan anggota klub Sparta Maesa (Jakarta Timur). Hari ini dijadwalkan latihan tenis mulai pukul 18.00-21.00 telah berkumpul dedongkot klub Sparta Maesa yaitu dr. Nico Lumenta, dr. F.Harefa, Freddy Pasla, Ine Pasla, August Ferry Raturandang, Inne Pasla, Eddy Pesik, Rini Pesik, Ferry (Baginda) Lumentut dan dr. Bonar Nainggolan.

Keinginan datang untuk melepas kerinduan yang sudah kurang ditemukan akibat kesibukan masing masing, hari ini terasa segar kembali ibarat setelah minum air putih dingin ditengah kehausan.
Hanya bercanda dengan gaya Manado sangat terasa sekali bagi anggota Maesa yang artinya MAESA = Bersatu.

"Kemana Harmen Lukas Tompodung. Biasanya datang, mungkin ada kesibukan diluar." tanya August Ferry Raturandang kepada tuan rumah Freddy Pasla.
Kelenturan , kegesitan disamping ketajaman penglihatan mulai berkurang mulai terlihat dari permainan tenis diusia senja ini. Tetapi semangat bermain tidak mau kalah tentunya masih tetap mendarah daging bagi anggota Soarta Maesa ini.

Disaat istrahat kesempatan bercerita penuh guyon dan untungnya tidak menyinggung masalah politk yang sekarang sedang hangat hangatnya menjelang tahun 2009.
Kemudian dr. Nico Lumenta mulai bercerita.
"Ada seorang wanita yang saking sibuknya main tenis. Sehingga suatu saat suaminya mengeluh.". Langsung disambar oleh August Ferry Raturandang, oh itu anggap saja Corry dan Harmen. " Ya suatu saat Harmen mengeluh. Odo do ngana pe kesibukan. Iko so rupa rupa , ada tata boga, tata rias deng tata bembeng, ngana so lupa akang patorang.

Disat pulang, Freddy Pasla bertanya, sudah waktunya punya nama ini klub. Langsung August Ferry Raturandang usulkan nama Maesa Jaya. Karena dulu juga ada klub Maesa Jaya (Lanny Kaligis Lumanauw cs). Tapi ada yang bertanya , kemungkinan klub itu masih ada. Carilah yang lain. Gimana Maesa PISOK. Langsung Rini Pesik bertanya apa artinya Pisok. " Oh itu BURUNG."
Langsung Rini bertanya mana burungnya. " Oh kalau itu sih banyak punya burung, karena yang hadir hanya 2 wanita sedangkan lainnya laik2, maka semua tertawa.
Oleh August Ferry Raturandang dikemukakan kalau pakai nama Maesa tetap harus ada karena semangat Maesa selama ini yang mempersatukan Kawanua sejagat.
Oleh Freddy Pasla, langsung diusulkan Sparta Maesa saja. OK. maka berarti Sparta Maesa mulai dihidupkan malam ini.