Kamis, 17 Juli 2014

Oleh Oleh dari Palembang

Jakarta, 18 Juli 2014. Kemarin tepatnya hari Rabu (17/07), saya terbang ke Palembang untuk bertemu dengan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatra Selatan dikantornya. Ini setelah ber komunikasi melalui SMS dengan beliau maslah turnamen tenis di Sumsel.
Pagi pagi berangkat dengan Citilink ke Palembang dan tiba di Palembang dengan udara cerah. Dan saya langsung juga informasikan kedatangan saya dengan rekan2 dari Pengda Pelti Sumsel seperti Ketua, Sekretaris dan dari komite pembinaan maupun pertandingan Pengda Pelti Sumsel. Dan hanya rekan Firdaus dari komite pertandingan yang bisa mendampingi saya ketemu Kadispora Sumsel tersebut. Sedangkan Sekretaris Pengda Asnawi tidak bisa karena ada kegiatan lain dan cukup menyampaikan salam kepada Kadispora.
Bersyukurlah mendapat sambutan cukup hangat dari Drs. H. Syaidina Ali Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga yang baru 2 tahun ini menjabat kedudukan. Memang saya belum kenal karena yang saya kenal sebelumnya dalam rangka persiapan SEA Games 2011

Rabu, 16 Juli 2014

Pesimis kalau Menpora Turut Campur Tangan

Jakarta, 17 Juli 2014. Kalau dalam pemberitaan disebutkan agar Kemenpora harus turun tangan masalah Tami Grende yang tidak diberikan rekomendasi ikuti US Open atau undangan ITF North America Tour, menurut saya sangat pesimis  . Alasan saya adalah  Ketua Umum PP Pelti saat ini hanya bisa mengikuti kemauan dari bawahannya walaupun keinginan bawahannya itu salah. Mungkin karena dia tidak mengerti masalah tenis.
Disini saya kuatir sekali Ketua Umum PP Pelti tidak sadar atas ulah dari anak buahnya. Bisa dibayangkan Ketua Bidang Pembinaan Yunior mengatakan (dalam pemberitaan media) kalau tidak akan dihambat, tetapi berbeda dengan keterangan Ketua Bidang Pembinaan Senior yang mengatakan tidak akan dikeluarkan rekomendasi tersebut.

Diskusi masalah induk organisasi Tenis di Indonesia

Jakarta, 17 Juli 2014 Semalam saya terima telpon dari salah satu rekan anggota pengurus daerah Pelti yang terkenal vokal dikepengurusan tersebut. Kevokalannya tentunya beralasan dan masuk akal bagi saya ketika berkomunikasi dengannya. Masalah pertama bertanya masalah Tami Grende yang diberitakan oleh Harian Jawa Pos kemudian masalah turnamen dan juga kinerja Pelti sendiri. Banyak prediksinya yang masuk akal dan terjadi tanpa disadari oeh rekan rekan lainnya yang mungkin tidak peduli. Dia ini mungkin diangap " gila ". Bagi saya memang ngurusin tenis itu harus orang " gila ". Jadi komunikasi kita berdua klop atau saling mengisi.
Sayapun bercerita duduk persoalan yang saya dengar dari keduabelah pihak antara pihak Tami Grende dan pihak klubnya. Dan sangat menyayangkan statement petinggi Pelti di Harian Jaa Pos terakhir. Dan juga berdiskusi pula apa yang harus dilakukan oleh Ketua Umum PP Pelti saat ini.
Disinggung masalah turnamen senior yang akan diselenggarakan di Surabaya pada buan Agustus 2014. Ternyata ada hambatan datang dari PP Pelti.  Berita ini sudah saya terima juga dari rekan saya di Solo (ibu rumah tangga) yang juga berperan dalam turnamen di Surabaya yang dmotori oleh penyelenggara Bonit Wiryawan mantan petenis nasional. 

Petinggi Pelti Mulai Ngaco

Jakarta, 17 Juli 2014. Begitu membaca berita di www.remaja-tenis.com yang mengambil dari Harian Jawa Pos, saya sedikit terhenyuh karena muncul beda pendapat datang dari dua petinggi PP Pelti. Sebelumnya diberitakan kalau ketua bidang pembinaan yunior PP Pelti mengatakan kalau PP Pelti tidak menghambat keinginan Tami Grende ikut Grand slam. Artinya PP Pelti akan menyetujui undangan ITF kepada Tami Grende ikuti ITF Development Tour tersebut.
Nah, sekarang Tami terima undangan dari ITF untuk ikuti ITF North America Tour yang diawali di Canada dan berakhir di US Open seperti waktu ikuti 6 minggu ITF Europe Tour dengan finishnya di imbledon.
Berita mengejutkan justru pemberitaan terakhir disebutkan statemen dari ketua bidang pembinaa senior PP Pelti yang mengatakan kalau PP Pelti tidak akan keluarkan endorement untuk Tami dalam memenuhi undangan tersebut. Tapi disini saya melihat ada perbedaan pandangan tentang  masalah undangan ITF tersebut dengan ikut serta Grandslam. Terungkap dalam berita tersebut kalau Tami Grende waktu ikuti Wimbledon (yang melalui undangan ITF Europe Tour) tanpa endosement dari PP Pelti. Sehingga oleh ketua bidang pembinaan senior dikatakan kalau waktu ikuti Wimbledon tanpa endorsement PP Pelti, kenapa sekarang mau ikuti US Open minta endorsement PP Pelti.

Selasa, 15 Juli 2014

Masalah Tami Grende Muncul dengan Pelti

Jakarta, 16 Juli 2014. Saat ini cukup hangat pemberitaan masalah Juara Wimbledon Junior dari Indonesia yaitu keberhasian Tami Grende (Bapaknya Italia dan Ibunya Bali) diganda putri Grandslam Wimbledon Junior 2014. Tetapi ada berita negatip muncul adalah munculnya statement dari orangtuanya yaitu Olivier Grende yang menyatakan Pelti menghambat dengan tidak memberikan/menghambat  persetujuan atas undangan ITF untuk Tami ikut ITF Development grant Tour ke Eropa. Dan sekarang muncul lagi undangan ITF untuk Tami ikuti ITF North American Tour sebelum ikut US Open bulan Agustus 2014.

Saya diberitahu kalau deadline nanti Jumat 18 Juli 2014, persetujuan Pelti belum muncul.. Sayapun SMS dengan Sekjen PP Pelti untuk mengingatkan masalah ini jangan sampai tertunda, dan oleh Sekjen diminta koordinasi dengan Ketua Bidang Pembinaan Yunior. Ya, saya tidak ada kepentingan masalah ini karena masalah sebenarnya saya sudah tahu sekali yaitu ada masalah internal dalam klub Sportama dengan Olivier Grende

Evaluasi Kepengurusan Baru ini

Jakarta, 16 Juli 2014. Sampai saat ini sudah memasuki tahun kedua kepengurusan Pelti dibawah komando ketuanya Maman Worjawan, masih aja muncul ketidak puasan masyarakat tenis. Munculnya ini sudah lama saya perkirakan ketika diawal kepengurusan keluar nama nama yang akan membuat semuanya ini menjadi seperti ini. Nah, kalau masalah pribadi pribadi saya tidak mau ungkit. Tetapi masalah program ataupun kinerjanya perlu dievaluasi lagi.
Saya tidak lupa saat bulan Mei 2013 ketika saya diundang sendiri oleh Ketua Umum PP Pelti untuk hadir dikantornya. Tenryata dia memaparkan program turnamen 3 hari yang sudah saya rintis sejak tahun 2009 dengan bendera RemajaTenis. Saat itu saya ditawarkan 40 turnamen 3 hari tersebut dari 80 turnamen direncanakan. Saya sedikit sombong saat itu kalau 100pun saya sanggup dengan 2 syarat saja, yaitu tidak ada intervensi dari oknum Pelti yang menyatakan kalau RemajaTenis itu bukan TDP, dan kedua jikalau ada dana. Katakan demikian ketika ditawarkan oleh Ketua Umum PP Pelti sendiri didepan 2 anggota pengurus lainnya.

Muncul Lagi Masalah Turnamen Bentrok

Jakarta, 15 September 2014. Kemarin saya terima telpon dari rekan lama yang rajin berkomunikasi dengan saya masalah tenis khususnya Pelti. Karena sama sama pernah duduk dalam kepengurusan Pelti duu.
Diceritakan betapa kecewanya teman temannya yang mau selenggarakan turnamen tetapi disuruh undurkan waktunya. Apa lagi sih, dan bagi saya bukanlah hal baru sebenarnya.
Dia katakan kalau bulan Agustus 2014 bersama mantan petenis nasional Bonit Wiryawan mau selenggarakan turnamen nasional tetapi oleh Pelti disuruh undurkan waktunya. Kemudian saya cek ke kaeder Pelti yang diterbutkan tgl 11 Juni 2014.
Memang di Surabaya ada turnamen nasional yunior Piala Semen Gresik 11-17 Agustus 2014 di Gresik, kemudian tgl 18-24 Agustus 2014  di Surabaya ada Dunlop BW turnamen dgn hadiah jutaan rupai artinya ini kelompok umum, dan ada iga tenis Junior (produk PP Pelti) tanggal23-25 Agustus 2014.

Senin, 07 Juli 2014

Terima kasih

Jakarta, 6 Jui 2014. Minggu lalu saya terima telpon dari rekan saya diinduk organisasi tenis yaitu Pelti. Datang telpon dari Sekjen PP Pelti. Ini karena saya sempat SMS kepadanya sampaikan terima kasih karena telah keluar surat edaran tentang batas susia PON 2016. Menyampaikan selamat hari minggu.
Setelah itu saya dibilangin kalau dia sempat memarahi rekan rekan di PP Pelti yang sibuk dengan mau menggolkan rencana bebas usia di PON XIX Jawa Barat tahun 2016. Harus diakui karena Pileg yang lalu (April) rekan saya ini sibuk dikampung halamannya sehingga oleh  rekan lainnya yang menyampaikan kalau dia sudah disingkirkan dari jabatan sekjen oleh pimpinan tertingggi. Saya dapat berita ini dari salah satu rekan dikepengurusan. Hal ini mnurut saya tidak mungkin karena dia ini yang membawa Ketua Umum ketemu saya untuk menjadi Ketua Umum PP Pelti saat itu.