Rabu, 21 Januari 2015

Turnamen Didaerah Perlu Lebih Digalakkan lagi

Jakarta, 22 Januari 2015. Melihat perkembangan tenis didaerah, saya belum lihat perkembangan yang signifikan, walaupun sudah mulai tergerak rekan rekan didaerah mengatasi problem turnamen dengan sistem seperti RemajaTenis kembangkan yaitu low cost tournament. Pertambahan turnamen ditahun 2014 dilakukan oleh Pelti Pusat sekalipun masih belum mengangkat daerah daerah terpencil, masih terpusat di pulau Jawa. Kenapa saya belum puas karena di Jawa sendiri sudah banyak turnamen yang ada selama ini. Tapi saya baru puas kalau diluar Jawa sudah tergerak. Saya sendiri sedang konsentrasi keluar Jawa karena saya prihatin mereka ini sangat minim turnamen sedangkan potensi ada baik SDM maupun kemampuannya, hanya tidak tahu mau start dari mana.

" Mau Dibawa Kemana Tenis Kita ? "

Jakarta, 21 Januari 2015. Hari ini setelah bermain tenis dipagi hari, siangnya saya diundang lunch bersama rekan rekan mantan pengurus Pelti di resto Saur Kuring di Jakarta. Kegiatan kumpul2 kangenan sudah sering dilakukan bahkan secara rutin, hanya waktunya tidak menentu saja. Hadir mantan ketua bidang pertandingan, mantan ketua bidang pembinaan yunior.
Muncullah keluhan dari rekan2 yang sudah tidak berkecimpung dipertenisan (kepengurusan) tetapi masih aktip bermain tenis Mereka ini sibuk dengan bisnis mereka dan bahkan mereka katakan siap bantu tenis kita asalkan jelas programnya. Ini masalahnya sekarang karena tidak ada kegiatan kegiatan yang terungkap sehingga mereka bisa ikuti secara jelas,

Minggu, 18 Januari 2015

Bertemu "Tersangka " KPK

Jakarta, 18 Januari 2015. Ketika membaca koran pagi ini, saya teringat sewaktu berada di Palembang menyempatkan diri bertemu dengan " tersangka "  KPK yaitu rekan lama saya di Palembang. Kebetulan pertandingan turnamen dilakukan di 2 lokasi yaitu lap tenis Pemkot Palembang dan lap tenis PU Sumsel. Dikantor PU Provinsi tersebut, saya mengajak rekan pelatih tenis Ade untuk bertemu dengan Ir. Rizal Abdullah yang saat ini sebagai Kepala Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Provinsi Smatra selatan. Ir Rizal Abdullah yang sudah dikategorikan sebagai tersangka oleh KPK pada tanggal 29 September 2014. Ya, walaupun ditetapkan sebagai tersangka beliau masih berdinas tetap dikantornya.

Kamis, 15 Januari 2015

Kalau Punya NIAT maka ada Jalannya

Palembang, 11 Januari 2015. Disela sela babak final kejurnas RemajaTenis Sumsel-XII dilapangan tenis Pemkot Palembang, saya bertemu dengan rekan lama Afghan Invasi mantan petenis yunior yang berasal dari Sumtra. Ternyata dia tugas di perusahaan asuransi dan sudah 9 bulan di Palembang. Karena dia petenis maka cocok lah berbicara tentang tenis di Sumsel.

Saya kemukakan tentang potensi pertenisan di Sumsel karena sejak 2011 sampai sekarang saya sudah selenggarakan untuk ke dua belas kalinya baik dilapangan tenis Pusri (2011), Jakabaring, Sekayu Muba, Tanjung Enim dan lapangan tenis Pemkot Palembang.
Saya katakan kalau lapangan tenis Pemkot ini bukan lapangan yang asing bagi saya karena beberapa tahun silam saya pernah menggelar Persami Piala Ferry Raturandang.

Agar cari figur jadi Ketua Pengcab Pelti Palembang

Palembang, 11 Januari 2015. Malam ini setelah selesai selenggarakan Kejurnas RemajaTenis Sumsel-XII di kota Palembang, berkumpullah pelaku pelaku tenis bersama sama dengan salah satu anggota Pengurus Daerah Pelti Sumsel. Bincang bincang masalah pertenisan di Sumatra Selatan yang sebenarnya diakui kalau selama ini dianggap tidur. Disamping itu pula saya langsung sampaikan kalau kita semua selaku pelaku tenis bisa berbuat lebih baik tidak perlu tergantung kepada induk organisasi. Karena birokrasinya terlalu panjang dan menghambat kegiatan kegiatannya.
Hadir malam itu Asep, Bambang Harsono , Firdaus. Mulai dari vakumnya kepengurusan Pencba Pelti Palembang masuk dalam pembicaraan. Diceritakan kalau ada figur dari birokrat Pemkot Palembang yang dicalonkan tetapi karena satu dan lain hal maka tersendat sendat. Apalagi saat ini petinggi Kotamadya Palembang lagi disekolahkan oleh KPK sehingga semua masih bertanya tanya. Saya maklumi saja karena ada kekuattiran jika ganti pimpinan maka akan terjadi perubahan kedudukan. Ini yang dikuatirkan mereka

Minggu, 04 Januari 2015

Organiser Harus Belajar dari Pengalaman

Jakarta, 5 Januari 2015. Ada satu hal yang perlu diperbaiki dalam Ketentuan TDP Nasional khususnya kelompok umur. Sudah lama ingin saya kemukakan, tetapi karena sewaktu masih menjabat akil Sekjen saya tidak bisa bergerak karena yang menentukan adalah ketua bidang pertandingan.
Kita harus bisa belajar dari keuhan keluhan selama ini didalam pelaksanaan TDP Kelompok Yunior ini. Ini akibat tidak pernah mendapatkan evaluasi dari tingkat Pusat maka kejadian tersebut tetap terjadi.
Sebagai penyelenggara juga harus memikirkan kepentingan peserta, sponsor dan terakhir penonton. Bukan kepentingan penyelenggara. Saat ini saya melihat pelaksana turnamen hanya memikirkan kepentingan penyelenggara. Bagaimana pelaksanaan itu cepat selesai, walaupun itu memeras tenaga peserta sehingga tidak nyaman karena keadaan terpaksa. Alasan klasik adalah HUJAN.

Mundurnya Ketua Pengda Pelti

Jakarta, 5 Januari 2015. Ketika berbincang bincang dengan rekan dari Jawa Tengah saya menyempatkan diri bertanya tentang kebenaran berita pengunduran diri Ketua Pengda Pelti Jawa Tengah. Ternyata dijawab benar sekali, kemudian saya ingin tahu juga permasalahan penyebabnya. Kelihatan banyak keinginan rekan2 pengurus lainnya yang memberatkan dirinya sehingga lebih nyaman minta mundur. Ini sangat disayangkan bisa terjadi. Rasanya baru kali ini Ketua Pengda Pelti minta mundur sebelum masa kepengurusannya berakhir.

Kekecewaan terhadap Turnamen Nasional

Jakarta, 5 Januari 2015. Hari ini saya terima telpon dari salah satu rekan tenis yang sedang berada disuatu turnamen nasional yunior. Baru selesai pembukaan dan langsung pertandingan. Ada yang dikeluhkan yaitu masalah bola untuk kelompok umur 10 tahun belum ada. Memang bolanya berbeda dengan bola normal. Disamping itu pula disampaikan kalau kelompok 14 tahun itu size of drawnya 124. Karena pesertanya membludak dan tidak disesuaikan dengan pelayanannya. Bayangkan peserta sekitar 400 karena ini turnamen pembuka ditahun 2015 dan sudah berjalan bertahun tahun secara rutin.
Disebutkan nama Refereenya yang termasuk keras kepala karena tidak mau mendengar saran yang diberikan. Ini menurut saya karena referee tersebut terbiasa selenggarakan untuk kelompok umum atau senior atau ITF Junior dimana hanya satu kelompok umur saja