Jumat, 14 November 2014

Masalah Kategori TDP

Jakarta, 14 Nopember 2014. Masalah kategori turnamen diakui Pelti atau TDP sampai sekarang masih dalam tanda tanya. Apakah ada perubahan atau tidak ? Kalau saya bertanya sama salah satu rekan di Pelti maka jawabannya tidak ada perubahan , apalagi kalau dikatakan ketentuan TDP masih yang lama. Tetapi dalam kenyataan ada perubahan. Jadi saya sendiri bingung. Dasar apa yang digunakan oleh PP Pelti dalam menentukan kategori TDP khususnya kelompok Yunior.

Saya sendiri menyadari dengan sering menulis dalam blogger ini saya akan mendapatkan musuh dari rekan rekan PP Pelti. I don't mind atau istilah Jakartanya EGEPE saja..
Tetapi kalau bicara sama mereka dikatakan kalau selalu mendukung program yang saya buat. Tapi kenyataannya saya melihat ada pilih kasih (ini istilah yang paling dibenci mereka kalau saya kemukakan. Penyakit ini sejak kepengurusan terbentuk.

Kamis, 06 November 2014

Turnamen Yunior gabung dengan Veteran ditahun 2015 di Pekanbaru

Jakarta, 6 November 2014. Sudah lama keinginan saya dikombinasikan turnamen yunior bersama sama veteran. Tetapi karena turnamen yunior RemajaTenis yang selama ini saya galakkan bisa berlangsung tanpa sponsor tetapi kalau turnamen veteran saya kira harus menggunakan sponsor, karena beaya lebih besar akibat adanya prize money.
Saya sudah berbicara dengan petinggi Baveti dengan gagasan tesebut, kelihatannya hanya lipsservice aja merka setuju, karena sampai sekarang belum muncul respons positipnya.
Sekembali dari Pekanbaru, saya muncul idea lagi yaitu dikombinasikan 3 turnamen nasional sekali gua yaitu kelompok umum dengan prize money, veteran dan yunior. Dalam minggu yang sama. Hanya saja kelompok umum mulai dari awal (kira2 Senin sampai Minggu), kemudian dihari Jumat sampai Sabtu bareng dengan Yunior dan veteran.

Senin, 03 November 2014

Masalah KTA Pelti

Pekanbaru, 3 Nopember 2014. Dalam satu percakapan telpon dengan salah satu rekan tenis di Jakarta, baru saya teringat seperti juga sering saya dapati didalam setiap turnamen RemajaTenis keluhan datang dari petenis sendiri ataupun orangtuanya. Masalah Kartu Tanda Anggota Pelti (KTA Pelti). 
Kenapa sekarang tidak dijalankan program KTA Pelti ini. Berbagai info didapatkan yaitu seperti semua program berbau Martina (Ketua Umum periode 2002 - 2012) dihilangkan. Karena KTA Pelti itu salah satu programnya. Info ini didapat dari orang dalam waktu saya terima info tersebut.
Ya, kalau itu benar maka sangat disayangkan. Tetapi apakah ada penggantinya. Saya juga dengar kalau sekarang diganti dengan IPINDO. Apa itu ya? Ternyata IPINDO itu IPIN Indonesia. IPIN artinya International Players Identification Number. Wow, berarti meniru ITF. Itu sah sah saja Kita mulai dengan meniru jika belum punya konsep sendiri.

Terpenuhi sudah keinginan ada RemajaTenis di Riau

Pekanbaru, 2 Nopember 2014. Sejak berdirinya Stadion Tenis PTPN-5 saya sudah terobsesi untuk bisa selenggarakan suatu turnamen skala nasional. Berbagai upaya sudah saya lakukan baru tahun 2014 ini bisa terealiser. Ini suatu kepuasan bagi saya sehingga bisa merealiser mimpi saya. Kenapa ? Karena saya teringat kalau seaktu penggunaan stadion tenis PTPN-5, saya ikut bertanggung jawab dalam pelaksanaannya. Saya bangga saat itu sebagai Technical Delegate PON XVIII 2012, ikut membantu pelaksanaan dan juga mengakui pembuatan stadio sesuai standard internasional.

Respons Masyarakat Riau Cukup bagus

Pekanbaru, 2 Nopember 2014. Kesempatan bertemu langsung dengan masyarakat tenis didaerah terpenuhi jikalau saya selenggarakan turnamen RemajaTenis. Saat ini dikota Pekanbaru, saya bertemu rekan rekan baik dari Riau ataupun Jambi yang ikut membawa putra dan putrinya.
Dan dari beberapa rekan tersebut ada yang tertarik dengan konsep RemajaTenis is a low cost tournament. Ada satu pertanyaan yang diberikan kepada saya ketika saya perkenalkan konsep RemajaTenis. " Berapa beaya dibutuhkan.?" Dan diapun kaget juga ketika saya menjawab " Berapa kemampuan Daerah untuk membantu pelaksanaan." Nah, bingungkan. Kalau dulu pertanyaan seperti ini saya jawab dengan katakan gratis karena saat itu saya masih sebagai petinggi induk organisasi sehingga wajib hukumnya saya selenggarakan didaerah daerah.

Selasa, 28 Oktober 2014

Coba Motivasi Rekan2 Tenis didaerah

Makassar, 26 Oktober 2014. Disela sela turnamen RemajaTenis Sulsel-2 di lapangan tenis Karebosi saya sempatkan diri berjumpa dengan rekan2 pengurus cabang Pelti yang hadir. Kebetulan ketemu Ketua Pengcab Pelti Polman Sulawesi Barat bersama sekretaris Pengcab yang lagi membawa anak asuhnya ikut turnamen.
Saya langsung sampaikan apa masalah didaerah sehingga tidak ada turnamenseperti ini. Kemudian saya inventariser jumlah lapangan tenisnya maupun atletnya.
Disamping itu pula saya sempat bertemu dengan salah satu orangtua petenis dari Kendari Sulawesi Tenggara. Sayapun mengajak bertukar pikiran masalah turnamen di Kendari. Kelihatannya yang bersangkutan tertarik dengan konsep "low cost tournament" yang saya beberkan kepada mereka. Mulai dari sejarah berdirinya dan sudah mencapai 16 Provinsi. Minggu depan, tepatnya tanggal 1-3 Nopember 2014 saya akan adakan di Pekanbaru Riau, artinya memasuki provinsi ke 17. Ini sebagai sumbangsih AFR saja kepada pertenisan Indonesia.

Keinginan Munaslub masih ada juga

Makassar, 26 Oktober 2014. Dihari terakhir turnamen nasional RemajaTenis Sulsel-2 saya sempat berjumpa dengan salah satu rekan anggota Pengda Pelti Sulsel yang juga ikuti Munas Pelti 2012 di manado. Dalam pertemuan ini saya sempat ditanay mengenai masalah lama juga yaitu kinerja PP Pelti. Ya saya hanya bisa katakan kalau saya sudah diluar sehingga tidak bisa banyak komentar lagi, karena sudah bosan terima keluhan keluhan dari rekan2 di daerah.

Minggu, 26 Oktober 2014

Sulsel Tidak akan Beli atlet

Makassar, 25 Oktober 2014. Dalam kunjungan saya kekota kelahiran saya yaitu Makassar , saya sempat berjumpa dengan Ketua Pengda Pelti yang juga mantan Gubernur Sulawesi Selatan, H.Amin Syam. Dalam pembicaraan tersebut sempat dikemukakan kalau Sulawesi Selatan tidak akan membeli atlet hanya untuk kepentingan PON mendatang. " Tidak ada kamusnya Sulsel beli atlet." ujarnya dilapangan tenis Karebosi.
Memang selama ini sepengetahuan saya Sulawesi selatan tidak pernah gunakan atlet beli. Walaupun hasinya tidak lolos ke PON.
Ini yang seharusnya dilakukan oleh petingggi KONI disetiap daerah , sehingga memacu atlet binaannya sendiri. Walaupun ada juga atlet Sulsel dijual ke daerah lain.
Tetapi sepengetahuan saya bagi atlet beli seperti itu akan membina mental tidak benar dan saya kira tidak akan berprestasi dengan baik